Kamis, 27 Februari 2025

Ketika Menghakhiri Bulan dan Mengawalinya; Bagaimana Rasulullah saw Lakukan

Oleh: KH. Abu Hasan Mubarok

Bulan Sya’ban sudah diujung, ini artinya bulan penuh ampunan akan segera tiba. Bulan sya’ban yang disebut-sebut sebagai bulan penyemaian, perawatan, pembinaan akan segera undur diri dari rentang waktu kita tahun ini. Bulan Sya’ban Kembali akan datang menyapa kita setelah 11 bulan kemudian, yaitu di tahun 1447 H.

Nanti sore, Jum’at (28/2) beberapa orang dan petugas pemantau hilal sudah ditugaskan di titik-titik pantau setidaknya ada 125 titik pantau yang telah disiapkan untuk menyapa kedatangan hilal Ramadhan tahun 1446 H ini. Tamu agung akan segera datang, gemuruh tasbih, takbir, tahmid berkumandang, burung-burung pun ikut bersorak-sorai kegirangan. Segenap Malaikat pun akan ikut Bersiap-siap dan berhias menyambutnya. Dan tak kalah hebat, para bidadari surgawi juga akan berhias bagi orang-orang yang akan berpuasa.

Lantas, sebagai ummat Rasulullah saw yang senantiasa meneladani sikap dan Tindakan beliau terkait pergi dan datang bulan baru bagaimana? Apa yagn harus dilakukan. Tulisan ini akan sedikit berceita satu amalan sunah dan hikmah di baliknya.

Sahabat Thalhah bin Ubaidillah RA menjelaskan perihal sikap kebiasaan Rasulullah saw ketika mengantar bulan lama dan menyambut bulan baru. Beliau RA berkata,

اللّهمَّ أهِلَّهُ عليْنا بالأمْن والإيمان، وَالسَّلامَةِ وَالإسلامِ، ربِّي وربُّكَ اللهُ

Artinya: adalah Rasulullah saw apabila melihat hilal, maka akan membaca Allahumma ahillahu ‘alaina bil amni wal iman wassalamata wal islam, rabbi wa rabbuka Allah. HR. Tirmidzi, Ahmad, ad Darimi.

Dari hadits ini jelas, bahwa Rasulullah saw apabila mengawali sesuatu itu membiasakan diri dengan permohonan kebaikan kepada Allah swt, kebaikan iman, keamanan, keselamatan.

Permulaan bulan dan pungkasan bulan menandakan isyarat bahwa dalam mengawali sesuatu dan mengakhiri sesuatu hendaknya melibatkan Allah swt.

Doa ini juga bisa dijadikan sebagai bacaan sore hari ini, bertepatan dengan akhir bulan Sya’ban. Namun juga perlu diketahui bahwa ada petunjuk lain dalam hal penentuan awal dan akhir bulan hijriyah.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar RA berkata, dirinya mendengar Rasulullah saw bersabda:

إذا رَأَيْتمُوه فَصُومُوا، وإذا رَأَيْتُمُوه فَأفْطِروُا، فإن غُمَّ عليكم فَاقْدُرُوا له

Artinya: Apabila kalian telah melihat hilal, maka berpuasalah. Dan apabila kalian telah melihat hilal, maka berbukalah. Dan apabila terhalang penglihatan (karena cuaca alam), maka genapkan bilangan. HR. Bukhari-Muslim

Dengan petunjuk dua hadits tersebut di atas. Maka, sore hari ini, kita perlu memastikan dahulu tentang awal dan akhir suatu bulan, dan bila memang hilal telah tampak, barulah kita membaca doa sebagaimana riwayat Thalhah bin Ubaidillah RA tersebut di atas.


 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar