Tampilkan postingan dengan label Khutbah jum'at. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khutbah jum'at. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Februari 2025

Ancaman Bagi Para Pemakan Barang Haram

 Seri Khutbah Jum’at

 

Ancaman Bagi Para Pemakan Barang Haram

Oleh: KH. Abu Hasan Mubarok

Ketua Umum MUI Penajam Paser Utara

Disampaikan pada khutbah jum’at, 21 Februari 2025

 

الحمد لله، الحمد لله أبدعَ ما أوجدَ، وأتقنَ ما صنَعَ، وكلُّ شيءٍ لجبروته ذلَّ ولعظمته خضَعَ، سبحانه وبحمده في رحمته الرجاء، وفي عفوِه الطمعُ، وأُثنِي عليه وأشكُره؛ فكم من خيرٍ أفاضَ ومكروهٍ دفَع، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعالى في مجده وتقدَّس وفي خلقِه تفرَّد وأبدَع، وأشهد أن سيدنا ونبيَّنا محمدًا عبدُ الله ورسوله أفضلُ مُقتدًى به وأكملُ مُتَّبَع، صلَّى الله وسلَّم وبارَك عليه وعلى آله وأصحابه أهل الفضلِ والتّقَى والورَع، والتابعين ومن تبِعَهم بإحسانٍ ولنهجِ الحق لزِم واتَّبَع، وسلَّم تسليمًا كثيرًا.

أما بعد: فأُوصيكم - أيها الناس - ونفسي بتقوى الله، فاتقوا الله - رحمكم الله -؛ فالحياة يعقُبُها الممات، والأترابُ يُسلِمون للتراب، سبقَ القومُ بكثرة الصلاة والصوم، هجَروا لَذيذَ المنام، وغايتُهم دارُ السلام، فالجِدَّ الجِدَّ - رحمكم الله - من أجل أن تغنَموا، والبِدارَ البِدَارَ من قبل أن تندَموا، واطرُقوا في الدُّجَى بابَ الرجاء، الموتُ بابٌ مورود، والأجلُ غيرُ مردود، ﴿ ذَلِكَ يَوْمٌ مَجْمُوعٌ لَهُ النَّاسُ وَذَلِكَ يَوْمٌ مَشْهُودٌ * وَمَا نُؤَخِّرُهُ إِلَّا لِأَجَلٍ مَعْدُودٍ * يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ [هود: 103- 105].

 

Segala puji milik Allah swt, yang telah menjadikan dan menjadi indah, dan segala sesuatu tertunduk dihadapan-Nya. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Besar Muhammad saw, beserta para keluarga, sahabat, dan pengikut setia sampai akhir zaman.

 

Selanjutnya, khatib berpesan khususnya kepada khatib pribadi dan umumnya kepada jamaah sekalian untuk senantiasa bertakwa kepada Allah swt, dengan cara menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Itulah makna takwa yang sesungguhnya, hanya orang-orang yang diberikan hati yang selamat yang bisa menjalankan amanah ini dan hanya ini jalan keselamatan dunia dan akhirat satu-satunya.

 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Jamaah kaum muslimin sidang jum’at yang dimuliakan Allah swt

Setiap Muslim harus menjalani kehidupannya di jalur syari’at. Dunia ini telah diciptakan Allah swt dengan aturan dan hukum-hukum-Nya. Begitujuga kehidupan di akhirat juga ada hukum-hukumnya dan aturannya. Barangsiapa mengikuti aturan dan ketentuan-Nya, maka akan selamat, dan barangsiapa menjauh dari jalur yang sudah ditetapkan-Nya, maka akan celaka dan binasa.

 

Allah swt berfirman dalam Qs Al Baqarah ayat 187:

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آَيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Artinya: itulah hukum-hukum Allah, maka jangan dilanggar, dan begitulah Allah menjelaksan kepada para manusia tanda-tanda-Nya agar mereka menjadi orang yang bertakwa.

 

Salah satu aturan yang telah Allah swt tetapkan adalah dalam hal makanan, minuman dan segala produk yang digunakan oleh manusia. Bahkan perintah pertama kepada Nabi Adam As dan Hawa adalah untuk menjauhi barang yang dilarang. Ingat firman Allah swt dalam QS al Baqarah ayat 35

وَلَا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ

Artinya: dan janganlah kelian berdua pohon ini, niscaya kalian berdua akan menjadi orang yang dzalim.

 

Imam Muhammad Sayyid Thanthawi dalam tafsirnya mengatakan bahwa larangan adalah bentuk mubalaghah dari larangan dalam hal konsumsi. Adam As dan Hawa dilarang untuk mendekati atau memakan pohon tersebut.

 

Jamaah kaum muslimin sidang jum’at yang dimuliakan Allah swt

Kondisi akhir zaman di mana setiap manusia tidak akan menghiraukan dari mana asal sumber rizki mereka sudah diprediksi oleh Rasulullah saw. Apabila kondisi ini terjadi pada diri kita, artinya kita sedang berada pada titik nadir keimanan kepada Allah swt. Karena kita tidak lagi menghiraukan halal dan haram pada sesuatu.

 

Dari Abi Hurairah RA berkata, dari Rasulullah saw bersabda:

يَأْتي على النّاسِ زَمانٌ لا يُبالِي المَرْءُ ما أخَذَ منه؛ أمِنَ الحَلالِ أمْ مِنَ الحَرامِ.

Artinya: Akan datang kepada manusia suatu zaman di mana seseorang tidak peduli apa yang ia ambil; apakah dari yang halal atau dari yang haram.

 

Rasulullah saw sudah mengingatkan sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud RA, Dimana Rasulullah saw bersabda:

طلبُ الحلالِ فريضةٌ بعدَ الفريضةِ

Artinya: mencari barang atau pekerjaan halal itu suatu bentuk kewajiban di atas kewajiban.

Para ulama berkomentar terhadap hadits ini dengan menyebutkan bahwa pengurusan halal itu adalah bentuk prioritas di atas segala-galanya.

 

Untuk menegaskan tentang perkara ini, ada sebuah hadits yang menyebutkan bahwa:

 طلبُ الحلالِ مِثْلُ مُقارَعَةِ الأبطالِ في سبيلِ اللهِ، ومن بات عَيِيًّا من طلبِ الحلالِ بات واللهُ تعالى عنه راضٍ

Artinya: Mencari yang halal seperti berjuang melawan pahlawan di jalan Allah, dan siapa yang terjaga dengan kebingungan dalam mencari yang halal, maka Allah SWT ridha kepadanya.

العبادةُ عشرةُ أجزاءٍ تسعةٌ مِنها في طلبِ الحلالِ

Artinya: ibadah itu terbagi menjadi sepuluh bagian, Sembilan bagian darinya ada pada mencari barang yang halal.

 

Jamaah kaum muslimin sidang jum’at yang dimuliakan Allah swt

Di banyak firman Allah swt dan perkataan dari Rasulullah saw yang menjelaskan tentang bagaimana ancaman terhadap orang-orang yang memakan barang haram. Di antaranya adalah:

 

Pemakan barang haram akan berakhir di neraka.

Dari Abu Bakar as Shiddiq RA, Rasulullah saw bersabda:

كُلُّ لحمٍ أنبتَه السُّحتُ فالنارُ أولى به

Artinya: setiap daging yang tumbuh dari barang haram, maka neraka adalah tempat yang paling layak baginya.

 

Pemakan barang haram akan terkunci hatinya dan sampah lisannya

من أكل الحلال أربعين يوما نور الله قلبه وأجرى ينابيع الحكمة من قبله على لسانه

Artinya: barangsiapa memakan barang yang halal selama empat puluh hari, maka Allah akan memberikan Cahaya pada hatinya dan akan menumbuhkan benih-benih hikmah dalam hatinya yagn terpancari dari lisannya.

 

Pemakan barang haram akan ditolak dan tertolak doa-doanya

 أَيُّها النّاسُ، إنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لا يَقْبَلُ إلَّا طَيِّبًا، وإنَّ اللَّهَ أمَرَ المُؤْمِنِينَ بما أمَرَ به المُرْسَلِينَ، فقالَ﴿يا أَيُّها الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّباتِ واعْمَلُوا صالِحًا إِنِّي بِما تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ [المؤمنون: ٥١]، وقالَ﴿يا أَيُّها الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّباتِ ما رَزَقْناكُمْ [البقرة: ١٧٢]، ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أشْعَثَ أغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إلى السَّماءِ، يا رَبِّ، يا رَبِّ، ومَطْعَمُهُ حَرامٌ، ومَشْرَبُهُ حَرامٌ، ومَلْبَسُهُ حَرامٌ، وغُذِيَ بالحَرامِ، فأنّى يُسْتَجابُ لذلكَ

Artinya: Wahai manusia, sesungguhnya Allah adalah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik, dan Allah memerintahkan orang-orang beriman sebagaimana Dia memerintahkan para rasul, maka Dia berfirman: "Wahai para rasul, makanlah dari yang baik-baik dan lakukanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kalian kerjakan" [Al-Mu’minun: 51]. Dan Dia berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian" [Al-Baqarah: 172]. Kemudian Dia menyebutkan seorang pria yang melakukan perjalanan jauh dalam keadaan kusut dan berdebu, mengulurkan kedua tangannya ke langit, "Ya Tuhan, Ya Tuhan," padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dia diberi makan dengan yang haram. Lalu, bagaimana permohonannya bisa dikabulkan?.. HR. Muslim

 

Pemakan barang haram akan tertolak ibadahnya selama barang tersebut masih menempel

من اشترى ثوبا بعشرة دراهم وفى ثمنه درهم حرام لم يقبل الله صلاته مادام عليه من شيئ

Artinya: barangsiapa membeli pakaian dengan sepuluh dirham, dan satu dirham berasal dari barang haram, maka Allah tidak akan menerima solatnya selama satu dirham tersebut masih ada di dalamnya.

 

Jamaah kaum muslimin sidang jum’at yang dimuliakan Allah swt

Kini umat Islam di Indonesia bisa berbangga hati, karena perihal telah diakuinya dan dilegalkannya Jaminan Produk Halal (JPH) yaitu lahirnya UU No. 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal. Di mana disebutkan di pasal 4 bahwa setiap produk yang masuk, beredar, dan diperdagangkan di wilayah Indonesia wajib bersertifikat halal.

 

Sertifikat halal ini termasuk juga dalam hal penyembelihan hewan, ayam, dan semua yang dikonsumsi oleh kita sebagai manusia. Apabila ada hewan yagn disembelih dengan cara yang tidak sesuai ajaran Islam, maka hewan tersebut adalah bangkai, dan memakan bangkai berarti memakan barang haram.

 

Imam Ibnu Hajar al Haitami al Makkai As Syafi’I dalam  az zawajir fi iqtiraf al kabair mengkategorikan para pemakan bangkai ini sebagia bentuk dosa besar. Berdalih dengan 2 ayat yang menegaskan pendapatnya yaitu QS al Maidah ayat 3 dan al An’am ayat 145, di mana disebutkan bahwa memakan bangkai adalah bentuk kefasikan dan kenajisan.

 

بارك الله لى ولكم في القرآن العظيم، ونفعنى وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، أقول قولى هذا وأستغفر الله العظيم لى ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات، استغفروا إنه هو الغفور الرحيم

 

Khutbah Kedua

 

الحمد لله الذي خلق الخلقَ بقدرته، ومَنَّ على من شاء بطاعته، وخذلَ من شاء بحكمته، فسبحان الله الغني عن كل شيءٍ، فلا تنفعه طاعةُ من تقرَّب إليه بعبادته، ولا تضرُّه معصيةُ من عصاه لكمال غِناه وعظيم عزَّته، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له في إلاهيَّته، وأشهد أن نبيَّنا وسيِّدَنا محمدًا عبدُه ورسولُه خيرتُه من خليقته، اللهم صلِّ وسلِّم وبارِك على عبدك ورسولِك محمدٍ وعلى آله وصحابته صلاةً وسلامًا كثيرًا. أما بعد:

فيا أيها المؤمنون أوصى نفسى بتق الله فقد فاز المتقون، قال الله تعالى في محكم التنزيل (( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ))

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد كما صليت على سيدن إبراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم وبارك على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد كما باركت على سيدنا إبراهيم وعلى آل إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد.

وارضَ اللهم عن خلفائه الراشدين الذين قضَوا بالحق وبه كانوا يعدِلون: أبي بكرٍ، وعمر، وعثمان، وعليٍّ، وعن سائر الصحابةِ أجمعين، وعنَّا معهم بجُودِك وكرمِك يا أكرم الأكرمين.

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات، اللهم أعِزَّ الإسلام والمسلمين، وأذِلَّ الشرك والمشركين، ودمِّر أعداء الدين، واجعل اللهم هذا البلد آمِنًا مُطمئنًّا رخاءً وسائر بلاد المسلمين.

اللهم إنا نسألُك الإخلاصَ في القولِ والعملِ، اللهم انصُر المُستضعَفين من المؤمنين في كل مكانٍ، اللهم كُن لهم وليًّا ونصيرًا، ومُعينًا وظهيرًا، اللهم عجِّل لهم بالفرَج والنَّصر يا قوي يا عزيز، اللهم وأدِر دوائرَ السَّوء على عدوِّك وعدوِّهم. اللهم اجمع كلمةَ المُسلمين على الحقِّ يا رب العالمين. اللهم أصلِح لنا دينَنا الذي هو عصمةُ أمرنا، وأصلِح لنا دنيانا التي فيها معاشُنا، وأصلِح لنا آخرتَنا التي إليها معادُنا، واجعل الحياةَ زيادةً لنا في كل خيرٍ، والموتَ راحةً لنا من كل شرٍّ. اللهم آتِ نفوسَنا تقواها، وزكِّها أنت خيرُ من زكَّاها. اللهم إنا نعوذُ بك من زوال نعمتك، وتحوُّل عافيتك، وفُجاءة نقمتك، وجميعِ سخطك.

 

عباد الله: ﴿ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ [النحل: 90].

فاذكروا الله العظيم الجليل يذكركم، واشكروه على آلائه ونعمه يزِدكم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون.

Kamis, 30 Januari 2025

Sya’ban: Selami Sejarah dan Raih Kemuliaan

 Sya’ban: Selami Sejarah dan Raih Kemuliaan

Oleh: KH. Abu Hasan Mubarok

Ketua Umum MUI Penajam Paser Utara

Disampaikan pada khutbah jum’at di Masjid ar Razzaq di PT. Eastkal Kaltim, Jum’at, 1 Sya’ban 1446 H atau 31 Januari 2025

 

الحمد لله، الحمد لله أبدعَ ما أوجدَ، وأتقنَ ما صنَعَ، وكلُّ شيءٍ لجبروته ذلَّ ولعظمته خضَعَ، سبحانه وبحمده في رحمته الرجاء، وفي عفوِه الطمعُ، وأُثنِي عليه وأشكُره؛ فكم من خيرٍ أفاضَ ومكروهٍ دفَع، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعالى في مجده وتقدَّس وفي خلقِه تفرَّد وأبدَع، وأشهد أن سيدنا ونبيَّنا محمدًا عبدُ الله ورسوله أفضلُ مُقتدًى به وأكملُ مُتَّبَع، صلَّى الله وسلَّم وبارَك عليه وعلى آله وأصحابه أهل الفضلِ والتّقَى والورَع، والتابعين ومن تبِعَهم بإحسانٍ ولنهجِ الحق لزِم واتَّبَع، وسلَّم تسليمًا كثيرًا.

أما بعد: فأُوصيكم - أيها الناس - ونفسي بتقوى الله، فاتقوا الله - رحمكم الله -؛ فالحياة يعقُبُها الممات، والأترابُ يُسلِمون للتراب، سبقَ القومُ بكثرة الصلاة والصوم، هجَروا لَذيذَ المنام، وغايتُهم دارُ السلام، فالجِدَّ الجِدَّ - رحمكم الله - من أجل أن تغنَموا، والبِدارَ البِدَارَ من قبل أن تندَموا، واطرُقوا في الدُّجَى بابَ الرجاء، الموتُ بابٌ مورود، والأجلُ غيرُ مردود، ﴿ ذَلِكَ يَوْمٌ مَجْمُوعٌ لَهُ النَّاسُ وَذَلِكَ يَوْمٌ مَشْهُودٌ * وَمَا نُؤَخِّرُهُ إِلَّا لِأَجَلٍ مَعْدُودٍ * يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ [هود: 103- 105].

Jamaah kaum muslimin sidang solat jum’at yang dimuliakan Allah swt.

Bulan sya’ban merupakan bulan ke-8, dalam urutan perhitungan kalender hijriyah. Telah berlalu bulan Rajab, bulan yang Allah swt agungkan dan muliakan di dalamnya. Dengan datangnya bulan Sya’ban, itu bertanda kita akan segera merapat ke bulan penuh ampunan, bulan suci Ramadhan. Apa persiapan yang sudah kita lakukan?

Darul Ifta al Mishiryah merilis fatwa yang menjelakan tentang keutamaan bulan Sya’ban. Salah satunya disebutkan bahwa bulan Sya’ban merupakan bulan yang diistimewakan, bulan yang disebut-sebut akan dilakukan pengangkatan amal perbuatan manusia, oleh karenanya, di bulan ini, kita dianjurkan untuk meningkatkan amal kebaikan sebanyak-banyaknya, di antaranya meningkatkan amalan sunnah, puasa sunnah, dan bentuk-bentuk amalan fadhilah lainnya.

Di antara peristiwa yang terjadi di bulan Sya’ban ini adalah; kelahiran cucu Rasulullah saw, Imam Hasan RA, permulaan perintah puasa di bulan Ramadhan pada tahun ke-2 Hijriyah, termasuk peristiwa perubahan kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram juga terjadi di bulan Sya’ban, tepatnya pada hari ke-17nya, pada saat umat Islam sedang melaksanakan solat duhur di tahun ke-2 Hijriyah.

Secara khusus, memang bulan sya’ban tidak disebutkan di dalam al qur’an. Namun, perihal kelalaian manusia banyak disinggung di dalam al qur’an, salah satunya adalah dalam QS Rum ayat 7, di mana Allah swt berfirman:

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُون

Artinya: mereka mengerjakan pekerjaan dunia saja, sementara dalam hal kebutuhan kehidupan akhirat mereka melalaikannya.

Imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa manusia itu sangat perhatian dan keseriusan dengan urusan duniawi dan cara meraihnya. Namun dalam hal kebutuhan mereka, kemanfaatan untuk negeri akhirat, manusia sangat lalai. Imam Hasan al Bahsri berkomentar bahwa manusia itu pandai dalam merubah bentuk dan nilai pada koin-koin mata uang dengan kuku-kuku mereka, namun dalam hal sholat, mereka sangat tidak pandai dan sempurna.

Jamaah kaum muslimin sidang solat jum’at yang dimuliakan Allah swt.

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid RA berkata; saya bertanya kepada Rasulullah saw perihal status beliau berpuasa ketika di bulan Sya’ban. Usamah melihat Rasulullah saw paling banyak berpuasa pada bulan Sya’ban di banding bulan lainnya. Melihat kecerdasan perhatian sahabat ini, beliau saw berkata:

ذلك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم “. رواه النسائي.

Artinya: ini adalah bulan yang suka dilalaikan oleh manusia, yaitu antara Rajab dengan Ramadhan. Di bulan ini, amalan manusia akan diangkat kehadirat Allah swt, maka saya senang berpuasa di saat pengangkatan amalan ini. HR. Nasai

Bahkan Sayyidah Aisyah RA sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari RA, bahwa Rasulullah saw sering sekali berpuasa di bulan Sya’ban, sampai-sampai beliau disebut tidak pernah berbuka.

Bahkan dalam riwayat lain, Imam Ahmad dan Abu Daud menceritakan bahwa Rasulullah saw sangat mencintai bulan Sya’ban ini dan ketika berpuasa di dalamnya bahkan dilanjutkan sampai puasa di bulan Ramadhan.

Jamaah kaum muslimin sidang solat jum’at yang dimuliakan Allah swt.

Penamaan bulan bagi orang-orang Arab memang sangat diinspirasi dengan peristiwa dan budaya mereka. Syaikh Badruddin al ‘Aini dalam umdahtul qari fi sharah sahih bukhari menjelaskan tentang penamaan bulan sya’ban ini. Beliau berkata bahwa sya’ban itu diambil berdasarkan budaya orang Arab kala itu yang suka berkumpul setelah tercerai-berai dalam pencarian air, sebagai bahan persediaan mereka. Jadi lafaz sya’ban  adalah berasal dari lafaz sya’b artinya berkumpul.

Dari gambaran ini, bisa kita ambil pelajaran bahwa bulan sya’ban adalah bulan evaluasi dari persiapan menghadapi suatu hajatan besar yaitu bulan berikutnya, bulan suci Ramadhan.

Namun jangan sampai lupa, bahwa di bulan sya’ban ini ada suatu malam yang sangat Istimewa, yaitu malam pertengahan bulan sya’ban, atau sering disebut dengan lailatu nishfu sya’ban.

Malam pertengahan sy’aban merupakan malam yang harus diperhatikan, sebab pada malam tersebut sangat dianjurkan umat Islam untuk beristigfar, berdoa, taubat, merancang dan mengevaluasi kehidupannya, dan sebagaimana dituturkan oleh Rasulullah saw bahwa malam pertengahan sya’ban adalah malam diangkatnya amalan perbuatan kehadirat Allah swt.

Disebutkan dalam riwayat Ibnu Majah, bahwa Rasulullah saw bersabda:

إذا كانت ليلة النصف من شعبان فقوموا ليلها و صوموا نهارها

Artinya: apabila telah sampai pada malam pertengahan bulan Sya’ban, maka hidupkanlah malam harinya dan berpuasalah di siang harinya. HR. Ibnu Majah

Dan amalan yang paling disukai oleh Allah swt pada malam hari adalah sholat malam. Disebutkan dalam riwayat Muslim, bahwa Rasulullah saw bersabda:

أفضل الصلاة بعد الفريضة صلاة الليل

Artinya: sebaik-baik sholat sesudah sholat fardhu adalah sholat pada waktu malam. HR. Muslim

Beberapa riwayat yang menjelaskan tentang bagaimana kemuliaan malam pertengahan sya’ban ini di antaranya adalah:

Riwayat dari Ahmad dan Thabrani bahwa:

إن الله عز وجل ينزل إلى السماء الدنيا ليلة النصف من شعبان فيغفر لأكثر من شَعْرِ غَنَمِ بني كلب، وهي قبيلة فيها غنم كثير”.

Artinya: sesungguhnya Allah swt turun ke langit dunia pada malam pertengahan sya’ban, maka akan diampuni semua dosa sebanyak bulu di kulit kambing bagi Kalb.

Imam Tirmidzi berkata bahwa hadits ini dinilai oleh Imam Bukhari sebagai hadits yang lemah. Begitupula imam Ad Daruquthni. Namun demikian, dalam hal keutamaan beramal, maka hal ini dibolehkan untuk memotivasi kita dalam meningkatkan amal-amal kebaikan.

Juga hadits yang diriwayakn oleh Aisyah RA:

قام رسول الله ـ ـ من الليل فصلى فأطال السجود حتى ظننت أنه قد قُبِضَ، فَلَمَّا رفع رأسه من السجود وفرغ من صلاته قال: “يا عائشة ـ أو يا حُميراء ـ ظننت أن النبي ـ ـ قد خَاسَ بك”؟ أي لم يعطك حقك .قلت: لا والله يا رسول الله ولكن ظننت أنك قد قبضتَ لطول سجودك، فقال: “أَتَدْرِينَ أَيُّ ليلة هذه”؟ قلت: الله ورسوله أعلم، قال “هذه ليلة النصف من شعبان، إن الله عز وجل يطلع على عباده ليلة النصف من شعبان، فيغفر للمستغفرين ، ويرحم المسترحِمِينَ، ويُؤخر أهل الحقد كما هم” رواه البيهقي من طريق العلاء بن الحارث عنها، وقال: هذا مرسل جيد. يعني أن العلاء لم يسمع من عائشة .

Artinya: suatu malam, Rasulullah saw solat dengan sujud yang agak lama, sampai saya mengira beliau saw sudah dipanggil oleh Allah swt, namun tiba-tiba, beliau mengangkat kepalanya dan setelah selesai sholatnya, beliau berkata, “wahai Aisyah, ya humaira, kamu kira, nabimu ini telah mengabaikanmu atau tidak memberi hak kepadamu?” maka saya menjawab, “tidak wahai Nabi, saya mengira bahwa engkau telah diambil oleh-Nya, karena lama sujud”. Lalu Nabi berkata, “Tahukan kamu, ini malam apa?” Aisyah menjawab, “Allah dan rasulnya yang lebih tahu”. Nabi katakana, “ini adalah malam pertengahan bulan Sya’ban, sesungguhnya Allah swt akan menampakan diri-Nya pada malam ini kepada hamba-hamba-Nya, kemudian akan melakukan pengampunan bagi orang yang meminta, akan memberikan kasih sayang-Nya, bagi yang meminta, dan khusus bagi orang yagn masih punya kedengkian dengan saudaranya akan ditangguhkan sebagaimana kondisinya”. HR. Al Baihaqi.

Hadits ini sekalipun dinilai lemah, namun imam al Baihaqi mengatakan hadits ini termasuk mursal jayyid. Atau hadits yang diriwayatkan oleh seorang dari generasi tabi’in kepada sahabat, sementara dirinya tidak pernah mendengar dari sumber pertamanya.

Jamaah kaum Muslimin sidang sholat jum’at yang dimuliakan Allah swt

Meskipun Rasulullah saw secara khusus tidak ada riwayat yang menjelaskan akan perlakuan terhadap malam ini, namun menurut Imam al Qashthalani dalam al mawahib alladuniyah disebutkan bahwa kalangan tabi’in yang Bernama Kholid bin Mi’dan dari Syam dan Makhul berserta yang lain sering mengadakan pertemuan dan meningkatkan keseriusan dalam beribadah di malam nishfu sya’ban ini. Olah karena itu, Masyarakat kemudian menjadikan dan mengikutinya.

Oleh karenanya, Imam al Qashthalani kemudian melanjutkan bahwa para ulama terbagi menjadi dua pendapat dalam hal metode menghidupan malam pertengahan bulan sya’ban. Pertama, kalangan ulama berpendapat boleh dan disukai atau mustahab. Baik diselenggarakan secara berjamaah di masjid dan tempat lainnya. Pendapat ini dipegang oleh Khlid bin Ma’dan, Luqman bin ‘Amir dan lainnya.

Metode mereka adalah dengan menggunakan baju-baju yang bagus, menggunakan wangi-wangian, bercelak, dan amalan performance sunnah lainnya. Metode ini akhirnya disepakati oleh Imam Ishaq bin Rahawaih (166-238 H). Ishaq bin Rahawaih sendiri merupakan ulama besar yang telah diakui akan kealimannya dan ketakwaannya. Bahkan imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, sulit sekali mencari tandingan Imam Ishaq bin Rahawaih ini.

Pendapat yang kedua mengatakan bahwa menghidupkan malam pertengahan bulan sya’ban merupakan perkara yang tidak disukai, apalagi dengan berkumpul di masjid untuk melaksanakan solat tertentu, bercerita, dan lain sebagainya. Salah satu punggawanya adalah Imam al Auza’I (88-157 H). imam Ahmad bin Hanbal menceritakan tentang imam al Auza’i ini bahwa, “suatu ketika Sufyan Tsauri dan Auza’i menemui Malik bin Anas. Setelah selesai keduanya keluar dari rumah Imam Anas, maka Ahmad bin Hanbal berkata, “Salah satu di antara keduanya adalah lebih ‘alim, dan satunya adalah sosok yang layak untuk dijadikan imam, dan Auza’I layak menjadi imam”.

Namun demikian, jamaah yang dimuliakan Allah swt bahwa bulan sya’ban adalah bulan yang sangat diperhatikan oleh Rasulullah saw, beliau saw sangat menganjurkan kepada kita semuanya untuk jangan melawatkan satu hari, satu malam di bulan Sya’ban ini kecuali dengan amalan-amalan kebaikan dan kesalehan.

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمن الرحيم، والعصر إن الإنسان لفى خسر، إلا الذين آمنوا وعملوا الصالحات وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر. بارك الله لى ولكم في القرآن العظيم، ونفعنى وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، أقول قولى هذا، وأستغفر الله العظيم، استغفروه إنه هو الغفور الرحيم...


 

الخطبة الثانية

إن الحمد لله تقدَّس ذاتًا وصفاتٍ وجمالاً، وعزَّ عظمةً وعلوًّا وجلالاً، وتعالى مجدًا ورفعةً وكمالاً، أحمده - سبحانه - برَى الخلائقَ فلا نقصَ يعرُوها ولا اعتِلالاً. لك الحمدُ حمدًا طيبًا ومُبارَكًا، لك الحمدُ مولانا عليك المُعوَّلُ، لك الحمدُ أعلى الحمد والشكرِ والثَّنا، أعزُّ وأزكَى ما يكونُ وأفضلُ. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له شهادةً تعنُو لها القلوبُ خضوعًا وامتِثالاً، وأشهد أن نبيَّنا وسيدَنا محمدًا عبدُ الله ورسولُه خيرُ من عظَّمَ اللهَ أقوالاً وفِعالاً، صلَّى الله عليه وعلى آله الأُلَى دامَ فيهم الفضلُ هطَّالاً، وصحبِه الذائِدين عن الإسلام كُماةً أبطالاً، والتابعين ومن تبِعهم بإحسانٍ ما تعاقبَ النيِّرانِ وتوَالَى، وسلَّم تسليمًا مُبارَكًا سَلسالاً.

 

أما بعد: فاتقوا الله - عباد الله -، واعلَموا أن التقوى نورُ القلوب إلى خشيةِ الله ومِشكاتُها، وسبيلُ محبَّته ومَرقاتُها، وبُرهانُ رهبتِه ودَلالاتُها، ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ [الحشر: 18]...

واعلموا أيها الأحباء عن قول الله تعالى: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا [الأحزاب: 56].

فصلُّوا وسلِّموا على سيد الأولين والآخرين وإمام المرسلين، اللهم صلِّ على محمدٍ وعلى آل محمدٍ كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمدٍ وعلى آل محمدٍ كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميدٌ مجيدٌ وسلِّم تسليمًا كبيرًا.

اللهم وارضَ عن الصحابة أجمعين وعن الخلفاء الراشدين الأئمة المهديين أبي بكر وعمر وعثمان وعلي وعن سائر أصحاب نبيك أجمعين وعن التابعين ومن تبعهم بإحسانٍ إلى يوم الدين، اللهم وارضَ عنَّا بمنِّك وكرمك ورحمتك يا أرحم الراحمين.

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات. اللهم أعزَّ الإسلام والمسلمين، وأذل الكفر والكافرين يا رب العالمين. اللهم ألِّف بين قلوب المسلمين على الحق يا أرحم الراحمين، اللهم أصلح ذات بينهم واهدهم سبل السلام وانصرهم على عدوك وعدوهم يا قوي يا عزيز، اللهم انصر دينك وكتابك وسنَّة نبيك يا قوي يا عزيز. اللهم فرِّج همَّ المهمومين من المسلمين ونفث كرب المكروبين من المسلمين، اللهم واشفِ مرضانا ومرضى المسلمين يا رب العالمين، اللهم اغفر لموتانا وموتى المسلمين، اللهم ضاعف حسناتهم وتجاوز عن سيئاتهم يا أرحم الراحمين. اللهم يا رب العالمين يا رحمن يا رحيم يا مالك يوم الدين اللهم أغثنا، اللهم أنت الغني ونحن الفقراء اللهم أغثنا، اللهم أنزل علينا الغيث ولا تجعلنا من القانطين، اللهم لا تؤاخذنا بما فعل السفهاء منَّا يا رب العالمين، اللهم أنزل علينا الغيث، اللهم أغثنا غيثا عاجلا يا أرحم الراحمين. اللهم أعذنا وذرياتنا من إبليس وذريته وجنوده وشياطينه يا رب العالمين، اللهم أعذ المسلمين من الشيطان الرجيم من إبليس وذريته والشياطين وجنوده يا رب العالمين إنك على كل شيء قدير. اللهم اجعل بلادنا آمنة مطمئنة رخاء سخاء وسائر بلاد المسلمين يا رب العالمين، اللهم آمنا في أوطاننا وأصلح اللهم ولاة أمورنا. اللهم أحسن عاقبتنا في الأمور كلها، وأجرنا من خزي الدنيا وعذاب الآخرة، يا حي يا قيوم برحمتك نستغيث أصلح لنا شأننا كله. اللهم أعذنا من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، وأعذنا من شر كل ذي شرٍ يا رب العالمين.

﴿ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ [البقرة: 201].

عباد الله: ﴿ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ * وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلًا إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ [النحل: 90 - 91].

اذكروا الله العظيم الجليل يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر والله يعلم ما تصنعون.

 

Kamis, 22 Februari 2024

Khutbah Jum'at_Nishfu Sya'ban: Keistimewaan dan Cara Meraihnya

Nishfu Sya’ban: Keutamaan dan Cara Meraihnya

Oleh: Abu Hasan Mubarok, Gr. S.SI. M.Pd

Ketua Umum MUI Penajam Paser Utara

 Jum'at, 23 Februari 2024

إن الحمد لله تقدَّس ذاتًا وصفاتٍ وجمالاً، وعزَّ عظمةً وعلوًّا وجلالاً، وتعالى مجدًا ورفعةً وكمالاً، أحمده - سبحانه - برَى الخلائقَ فلا نقصَ يعرُوها ولا اعتِلالاً. لك الحمدُ حمدًا طيبًا ومُبارَكًا لك الحمدُ مولانا عليك المُعوَّلُ، لك الحمدُ أعلى الحمد والشكرِ والثَّنا، أعزُّ وأزكَى ما يكونُ وأفضلُ. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له شهادةً تعنُو لها القلوبُ خضوعًا وامتِثالاً، وأشهد أن نبيَّنا وسيدَنا محمدًا عبدُ الله ورسولُه خيرُ من عظَّمَ اللهَ أقوالاً وفِعالاً، صلَّى الله عليه وعلى آله الأُلَى دامَ فيهم الفضلُ هطَّالاً، وصحبِه الذائِدين عن الإسلام كُماةً أبطالاً، والتابعين ومن تبِعهم بإحسانٍ ما تعاقبَ النيِّرانِ وتوَالَى، وسلَّم تسليمًا مُبارَكًا سَلسالاً.

أما بعد: فاتقوا الله - عباد الله -، واعلَموا أن التقوى نورُ القلوب إلى خشيةِ الله ومِشكاتُها، وسبيلُ محبَّته ومَرقاتُها، وبُرهانُ رهبتِه ودَلالاتُها، ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴾

 

Jamaah sidang sholat jum’at yang dimuliakan Allah swt

Pertama, marilah kita panjatkan puji kehadirat Allah swt, yang suci Dzat-Nya dan memiliki agung-Nya keindahan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan Nabi Besar Muhammad saw beserta keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang setia sampai akhir zaman.

Selanjutnya, khatib berpesan kepada diri khatib pada khususnya dan jamaah pada umumnya, marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt, dengan cara menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ingatlah firman Allah swt, “Wahai orang-orang yang beriman, takutlah kalian kepada Allah dan lihatlah pada diri kalian, apa sesungguhnya amalan yang telah kalian persiapkan untuk negeri akhirat?”

 


Jamaah sidang sholat jum’at yang dimuliakan Allah swt

Allah swt terlah berfirman pada surat at Taubah ayat 36 :

﴿إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثۡنَا عَشَرَ شَهۡرࣰا فِی كِتَـٰبِ ٱللَّهِ یَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡهَاۤ أَرۡبَعَةٌ حُرُمࣱۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّینُ ٱلۡقَیِّمُۚ فَلَا تَظۡلِمُوا۟ فِیهِنَّ أَنفُسَكُمۡۚ وَقَـٰتِلُوا۟ ٱلۡمُشۡرِكِینَ كَاۤفَّةࣰ كَمَا یُقَـٰتِلُونَكُمۡ كَاۤفَّةࣰۚ وَٱعۡلَمُوۤا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلۡمُتَّقِینَ﴾

Artinya: sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah 12 bulan, hal ini sebagaimana tercantum dalam kitab Allah, mulai dari hari diciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan yang dimuliakan. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kalian berbuat kedzaliman pada bulan-bulan Istimewa tersebut, dan perangilah orang-orang yang Musyrik semuanya sebagaimana mereka telah memerangimu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah Bersama orang-orang yang bertakwa.

 

Imam al Qurhthubi (w. 671 H) dalam al Jami’ li ahkam al qur’an bahwa yang dimaksud dengan kitab Allah adalah lauhul mahfuz. Artinya bahwa bilangan empat untuk bulan-bulan yagn diistimewakan sudah telah ditetapkan dan ditentukan sejak penciptaan langit dan bumi dan itu tertulis di lauhul mahfuz.

 

Imam an Nasai meriwayatkan sebuah hadits dari jalur Usamah bin Zaid RA bahwa Rasulullah saw bersabda:

يا رسولَ اللَّهِ ! لم ارك تَصومُ شَهْرًا منَ الشُّهورِ ما تصومُ من شعبانَ ؟ ! قالَ : ذلِكَ شَهْرٌ يَغفُلُ النَّاسُ عنهُ بينَ رجبٍ ورمضانَ ، وَهوَ شَهْرٌ تُرفَعُ فيهِ الأعمالُ إلى ربِّ العالمينَ ، فأحبُّ أن يُرفَعَ عمَلي وأَنا صائمٌ

Artinya: ya Rasulullah, Saya tidak melihat engkau banyak berpuasa pada bulan-bulan lainnya, sebagaimana engkau berpuasa pada bulan Sya’ban? Rasulullah saw menjawab, “itu adalah bulan yang banyak dilupakan manusia, bulan mulia antara Rajab dan Ramadhan. Bulan Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal perbuatan ke hadirat Allah Tuhan Seluruh Alam, dan saya suka bila saat amalku diangkat sementara saya sedang berpuasa. HR. Nasai

 

Jamaah sidang sholat jum’at yang dimuliakan Allah swt

Bulan Sya’ban memiliki keistimewaan tertentu sebagiamana telah disabdakan Rasulullah saw sendiri. Termasuk pengakuan dari Imam Syafi’i RA sendiri dalam Sunan al Kubra lil Baihaqi bahwa:

وَبَلَغَنَا أَنَّهُ كَانَ يُقَالُ : إِنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ فِى خَمْسِ لَيَالٍ فِى لَيْلَةِ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةِ الأَضْحَى وَلَيْلَةِ الْفِطْرِ وَأَوَّلِ لَيْلَةِ مِنْ رَجَبٍ وَلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ

Artinya: telah sampai kepada kami bahwa ada narasi menyebutkan, sesungguhnya doa sangat dianjurkan pada kelima mala mini, yaitu; 1) malam jum’at, 2) malam ied adha, 3) malam ied fitri, 4) malam pertama bulan rajab, 5) malam pertengahan sya’ban.

 

Bahkan disebutkan oleh Imam Abdullah bin Ahmad al Fakihi (899-972 H), seorang ahli fiqih dalam mazhab Syafi’I dan ahli Bahasa dalam Ahbar Makkah disebutkan bahwa “disebutkan bahwa penduduk Mekah pada malam pertengahan bulan Sya’ban, mereka bersungguh-sungguh pada malam tersebut untuk meraih kemuliannya, hal ini mereka lakukan dari dahulu kala sampai sekarang. Di antara yang diamalkan adalah semua laki-laki dan Perempuan pergi menuju masjid, sholat berjamaah, berthawaf, mereka pun menghidupkan malamnya sampai subuh dengan membaca al qur’an sampai hatam di masjidil haram”.

 

Jamaah sidang sholat jum’at yang dimuliakan Allah swt

Sya’ban sendiri itu memiliki berbagai nama dan arti. Di antaranya adalah sebagaimana disebutkan oleh al Jauhari, Sya’ban adalah sesuatu yang memiliki makna saling berlawanan. Sementara Ibnu Duraid mengartikan dengan berpisahnya sesuatu dan menyatunya sesuatu, atau berkumpulnya sesuatu. Imam al Manawi menggambarkan makna sya’ban adalah bahwa orang-orang Arab bila telah masuk bulan Rajab, maka mereka akan angkat senjata, sementara bila sudah masuk ke bulan Sya’ban mereka akan berkumpul, saling membuat koloni-koloni.

 

Definisi ini dipertegas dengan pernyataan Abu Hilal al ‘Askari bahwa berkumpulnya Masyarakat pada bulan Sya’ban karena ada keinginan yaitu kekuasaan atau menghendaki suatu pemberian.

 

Rasulullah saw sendiri di dalam banyak Riwayat menyebutkan tentang keutamaan malam nisfhu sya’ban. Di antaranya adalah sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih Ibnu Hibban, dari Mu’adz bin Jabal RA dari Rasulullah saw bersabda;

يطلع الله إلى خلقه في ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

Artinya: Allah akan menampakkan kepada hamba-Nya pada pertengahan malam sya’ban, kemudian Dia akan memberikan ampunan kepada semua makhluq-Nya, kecuali pada orang musyrik atau orang yagn sedang bermusuhan. HR. Ibnu Hibbah, derajat hadits sahih

 

Dari petunjuk Rasulullah saw tersebut di atas. Maka malam pertengahan sya’ban memiliki keistimewaan dan dalam sejarahnya, umat Islam juga memanfaatkan malam ini dengan berbagai amalan-amalan. Dengan harapan, agar diberikan kebaikan dan keselamatan dari Allah swt. Lalu, apa yagn harus lakukan atau dikerjakan?

Jamaah sidang sholat jum’at yang dimuliakan Allah swt

As Sayyid Muhammad bin Alawi al Makki al Maliki di dalam kitabnya madza fi sya’ban menjelakan bagaimana menghidupkan malam pertengahan Sya’ban. Menurutnya ada dua pendapat tentang bagaimana cara menghidupkan malam pertengahan Sya’ban, yaitu:

Pertama, dianjurkan menghidupkan malam nishfu dengan cara berjamaah di masjid. Adalah Khalid bin Mi’dan dan Luqman bin ‘Amir, keduanya adalah dari generasi tabi’in, apabila telah memasuki malam pertengahan Sya’ban akan memakai pakaian yang paling bagus, menggunakan bukhur dan bercelak. Mereka akan menghidupkan masjid pada malam tersebut. Pendapat ini, disepakati oleh Ishaq bin Rahawaih, bahkan beliau mengatakan bahwa menghidupkan malam itu di masjid dengan berjamaah adalah bukan berkara bid’ah.

Pendapat kedua, adalah pendapat yang mengatakan bahwa apabila berkumpulnya itu dilakukan secara berjamaah,  maka hal itu tidak disukai. Namun, bila dilakuakn sendiri-sendiri. Maka hal itu tidak masalah. Ini adalah pendapat Imam al Auza’I, pemimpin para ulama penduduk Syam.

 

Jamaah sidang sholat jum’at yang dimuliakan Allah swt

Umur manusia adalah pendek, waktu dan kesempatan adalah tidak datang pada kali yagn kedua, ada masa Istimewa yang bersifat pekanan seperti malam jum’at, tahunan seperti malam pertengahan Sya’ban. Maka, ingatlah sebuah peristiwa yang terjadi pada Aisyah RA, sebagiaman dituturkan oleh Ibnu Syaibah dalam Musnafnya;

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : كُنْت إِلَى جَنْبِ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَفَقَدْته فَابْتَغَيْتُهُ فَإِذَا هُوَ بِالْبَقِيعِ رَافِعًا يَدَيْهِ يَدْعُو فَقَالَ : يَا بنت أَبِي بَكْرٍ ، أَخَشِيت أَنَّ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْك وَرَسُولُهُ ، إنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ , لَيْلَة النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ , فَيَغْفِرُ فِيهَا مِنَ الذُّنُوبِ أَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ مَعْزِ كَلْبٍ.

Artinya: dari Aisyah berkata, “suatu ketika, saya kehilangan Rasulullah saw di sisiku, lalu saya telusuri, dan ternyata beliau sedang ada di Baqi’ tengah menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa. Lalu beliau saw berkata, “wahai putrinya Abu Bakar, apakah kamu takut Allah akan menghilangkan utusan-Nya?,  sesungguhnya pada malam hari ini, adalah malam pertengahan Sya’ban, Allah akan mengampuni segala dosa, meski banyaknya sebilang bulu domba”.

Janganlah sampai kita kehilangan momentum terbaik ini, adalah momentum yang datang di ukuran tahun sekali. maka;

وَسَارِعُوۤا۟ إِلَىٰ مَغۡفِرَةࣲ مِّن رَّبِّكُمۡ

Artinya: berlomba-lombalah kalian dalam meraih ampunan tuhan kalian. QS al Imran ayat 133.

بارك الله لى ولكم فى القرآن الكريم ونفعنى وإثاكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لى ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات استغفروه إنه هو الغفور الرحيم

Kamis, 28 Desember 2023

Bagaimana Merayakan Kebahagiaan?

Khutbah Jum'at, 29/12/2023

Bagaimana Merayakan Kebahagiaan?

Oleh: Abu Hasan Mubarok, Gr. S.SI. M.Pd

Ketua Umum MUI Kab. Penajam Paser Utara

 الحمد لله الذي زين قلوب أوليائه بأنوار الوفاق، وسقى أسرار أحبائه شرابًا لذيذ المذاق، وألزم قلوب الخائفين الوجَل والإشفاق، فلا يعلم الإنسان في أي الدواوين كتب ولا في أيِّ الفريقين يساق، فإن سامح فبفضله، وإن عاقب فبعدلِه، ولا اعتراض على الملك الخلاق.

 أشهد أن لا إله إلا الله، وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد، وهو على كل شيء قدير، إلهٌ عزَّ مَن اعتز به فلا يضام، وذلَّ مَن تكبر عن أمره ولقي الآثام. وأشهد أن سيدنا وحبيبنا وشفيعنا محمدًا عبد الله ورسوله، وصفيه من خلقه وحبيبه، خاتم أنبيائه، وسيد أصفيائه، المخصوص بالمقام المحمود، في اليوم المشهود، الذي جُمع فيه الأنبياء تحت لوائه.

 اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبع الهدى إلى يوم الدين، أما بعد:

فيا عباد الله أوصي نفسى وإياكم بتقوا الله بإقامة أوامر الله واجتناب نواهيه، ومن يتق الله فقد فاز، قال الله تعالى (( وَٱتَّقُوا۟ یَوۡمࣰا لَّا تَجۡزِی نَفۡسٌ عَن نَّفۡسࣲ شَیۡـࣰٔا وَلَا یُقۡبَلُ مِنۡهَا عَدۡلࣱ وَلَا تَنفَعُهَا شَفَـٰعَةࣱ وَلَا هُمۡ یُنصَرُونَ ))

 Jamaah sidang solat jum’at yang dimuliakan Allah swt.

Kebahagiaan dan kesengsaraan diibaratkan dua sisi mata uang. Keduanya tidak bisa saling dipisahkan. Cuman perbedaannya adalah bahwa kebahagiaan adalah hal yang paling dicari oleh setiap manusia dan diharapkan, sementara kesengsaraan adalah hal yang paling tidak disukai dan dihindari.

 Di dalam al qur’an surat Yunus ayat 58, Allah swt berfirman:

قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَ ٰلِكَ فَلۡیَفۡرَحُوا۟ هُوَ خَیۡرࣱ مِّمَّا یَجۡمَعُونَ

Artinya: katakanlah (Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaknya dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yagn mereka kumpulkan”.

 Dari ayat ini kita bisa memaknai bahwa kebahagiaan adalah perintah dari Allah swt. Namun, syarat utama dalam memaknai kebahagiaan itu sendiri adalah dengan kesadaran dan merasakan akan adanya karunia dan rahmat Allah swt.

 Imam Asy Syaukani (w. 1250 H) dalam Fathul Qadir menjelaskan bahwa menurut Abdullah bin Abbas bahwa yagn dimaksud dengan karunia Allah adalah al qur’an, sedangkan rahmat Allah adalah ajaran Islam. Dengan ini menjadi jelas bahwa landasan seorang mukmin dalam merasakan dan merayakan kebahagiaan adalah pada al qur’an dan ajaran Islam.

Ingat bagaimana dahulu Ketika orang-orang Aus dan Khazraj yang sedarah kandung, selama ratusan tahun selalu berperang dan bertikai, hingga pada hal-hal yagn paling sepele pun mereka akan bertikai. Padahal dahulunya, mereka berasal dari satu keturunan. Abu al Hajjaj al ‘Asyari dalam at ta’rif bil ansab wa tanbih bi dzawil ahsab mengatakan bahwa suku Aus dan Khazraj merupakan dua putra dari Haitsah al ‘Unaqa bin Amar bin Amir, sementara ibunya adalah Qailah bintu al Arqam bin Amar.

 Setelah Islam datang, keduanya menyatu dan Kembali ke pangkuan persaudaraan. Ini adalah suatu contoh kebahagiaan sejati pada manusia. Maka tidak heran, Ketika Imam Syaukani menjelaskan lebih lanjut bahwa huruf fa pada lafaz falyafrakhu adalah jawab syarat di mana struktur kalimatnya adalah,

إنْ فَرِحُوا بِشَيْءٍ فَلْيَخُصُّوا فَضْلَ اللَّهِ ورَحْمَتَهُ بِالفَرَحِ.

Artinya: apabila mereka bergembira dengan sesuatu, maka ingatlah dengan karunia dan rahmat Allah.

 Al farah itu sendiri adalah kenikmatan di dalam hati dengan sebab adanya capaian harapan.

 Jamaah sidang solat jum’at yang dimuliakan Allah swt.

Momentum Desember acapkali dijadikan sebagai momentum liburan, momentum pelepas kerinduan antara anggota keluarga, karena biasanya ada hari libur di akhir tahun. Oleh karenanya, momentum liburan ini dimanfaatkan untuk merayakan dan menjadi sebab kebahagiaan. Apalagi disambut dengan momentum pergantian tahun baru.

 Biasanya, orang akan merayakan tahun baru dengan penuh suka cita dan harapan. Tidak sedikit orang menyiapkan dan mengeluarkan uang untuk bersenang-senang, bergembira, dan bahkan ini hal yang sangat disayangkan momentum itu dijadikan sebagai sarana untuk kesempatan melanggar perintah Allah swt. Banyaknya perzinahan, perkelahian, hura-hura, pemborosan, dan lain sebagainya. Itu adalah contoh-contoh bagaimana merayakan kebahagiaan yang tidak diridhai Allah swt.

 Allah swt mengingatkan kepada kita semuanya akan firmannya di surat Ghafir ayat 75-76:

ذلِكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَفْرَحُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَمْرَحُونَ - ٱدۡخُلُوۤا۟ أَبۡوَ ٰبَ جَهَنَّمَ خَـٰلِدِینَ فِیهَاۖ فَبِئۡسَ مَثۡوَى ٱلۡمُتَكَبِّرِینَ

 Artinya: yang demikian itu disebabkan karena kamu bersuka ria di bumi (tanpa) mengindahkan kebenaran dan krena kamu selalu beruka ria dalam kemaksiatan. Masuklah kalian ke dalam neraka Jahannam selamanya, alangkah buruknya orang-orang yang berlaku sombong yang akan menempati Jahannam.

 Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) menjelaskan bahwa ini adalah rangkaian ayat-ayat tentang kondisi orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah, tidak mempercayai kebenaran dari Allah swt, dan bahkan mereka suka menggunakan dalih, menentang dan cenderung pada kebathilan, akal mereka tidak digunakan untuk mencari petunjuk.

 Jamaah sidang solat jum’at yang dimuliakan Allah swt.

Gunakanlah uang sebagai rizki yang telah Allah swt titipkan kepada kita untuk kebaikan, niatkanlah untuk menjaga ukhuwah/persaudaraan sesama Muslim, bangsa dan negara. Jadikan waktu-waktu tersebut sebagai sarana untuk bersyukur, bukan untuk menambah kekufuran.

 Allah swt sangat mengecam keras tindakan orang-orang yang tidak bisa mensukuri nikmat-Nya. Di dalam surat Ibrahim ayat 7;

وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَىِٕن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِیدَنَّكُمۡۖ وَلَىِٕن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِی لَشَدِیدࣱ

Artinya: dan ingatlah Ketika Tuhanmu memaklumkan, sesunguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan tambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.

 Dalam ayat ini, Ibnu Katsri (w. 774 H) memaparkan bahwa penggunaan lafaz taadzdzana adalah memiliki makna mendeklarasikan akan ancaman, bisa juga bermakna Tuhanmu bersumpah dengan kemuliann-Nya, keagungan-Nya.

 Membelanjakan nikmat yang telah Allah berikan bukan di jalur untuk mendekat kepada-Nya merupakan suatu bentuk kekufuran. Imam Ibnu Katsir mengatakan ada dua bentuk kekufuran terhadap nikmat Allah swt, yaitu; pertama; menyembunyikan (الستر) dan menyangkal atau tidak berterimakasih (الجحود).

 Di dalam musnad imam Ahmad ada sebuah riwayat yang menggambarkan bagaimana Rasulullah saw memberikan apresiasi akan kesyukuran. Dari Tsabit dan Anas berkata:

أَتَى النَّبِيَّ ﷺ سَائِلٌ فَأَمَرَ لَهُ بِتَمْرَةٍ فَلَمْ يَأْخُذْهَا -أَوْ: وَحِشَّ بِهَا -قَالَ: وَأَتَاهُ آخَرُ فَأَمَرَ لَهُ بِتَمْرَةٍ، فَقَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ! تَمْرَةٌ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ. فَقَالَ لِلْجَارِيَةِ: "اذْهَبِي إِلَى أُمِّ سَلَمَةَ، فأعطيه الأربعين درهما التي عِنْدَهَا".

Suatu Ketika Rasulullah saw didatangi oleh dua orang pengemis, lalu Rasulullah saw menyodorkan kurma, kemudian si pengemis tadi menolaknya. Lalu datang pengemis yagn kedua, dan dia menerima kurma pemberian Rasulullah saw dan berucap, “ini adalah kurma dari Rasulullah saw”. Lalu Rasulullah saw pun berkata kepada pembantunya, “pergilah ke Ummu Salamah dan berikanlah pengemis ini 40 dirham yang dimilikinya”.

 Dari hadits ini menunjukan bahwa karunia yang baik akan Kembali kepada kebaikan pula. Dan penerimaan yang baik akan dibalas dengna penerimaan yagn lebih baik pula. Demikian pula dengan harta kita. Jangan sampai momentum kebersamaan, momentum kebahagiaan Bersama keluarga, teman dan rekan-rekan, akan berubah menjadi sikap kita dalam mengkonfirmasi bahwa kita adalah bukan orang-orang yang pandai dalam mensyukuri nikmat. Karena ancaman orang-orang seperti ini adalah Jahannam dan kemurkaan dari Allah swt.

 Sebaliknya, manfaatkanlah karunia Allah swt tersebut sebagai sarana untuk bahagia, dan mendekatkan diri kepada Allah swt. Ingatlah bahwa kehidupan itu hanyalah sesaat, sementara kehidupan akhirat adalah kekal dan abadi selama-lamanya.

 أعوذ بالله من الشيطان الرجيم – بسم الله الرحمن الرحيم – والعصر إن الإنسان لفى خسر – إلا الذين أمنوا وعملوا الصالحات وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر.

بارك الله لى ولكم فى القرآن الكريم ونـفعـنى وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، أقول قولى هذا وأستغفر الله العظيم لى ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات فاستغفروا إنه هو الغفور الرحيم.