Jumat, 20 September 2024
Selasa, 12 Maret 2024
Keutamaan Bulan Ramadhan
Keutamaan Bulan Ramadhan
Oleh: Abu Hasan Mubarok, Gr.
S.SI. M.Pd
Ketua Umum MUI PPU
Bulan Ramadhan adalah bulan yang disajikan khusus untuk orang-orang yang beriman dan taat kepada Allah swt. Bulan Ramadhan, bulan ampunan, bulan diturunkan al qur’an, bulan yang hanya diketahui oleh orang-orang yang berkepentingan.
Imam Ibnu Rajab al Hanbali (736-795 H) menyebutkan
dalam lathaif al ma’arif
فأد حقوقه قولا وفعلا وزادك فاتخذه للمعاد
فـمن زرع الحبوب وما سقاها تأوه نادما يوم الحصاد
Bulan Ramadahan adalan
ladang bagi hamba
Untuk membersihkan hati dari
kerusakan
Tunaikanlah kewajiban dengan
perkataan dan perbuatan
Dan penuhilah perbekalanmu,
dan jadikanlah sebagai persiapan untuk hari akhir
Barangsiapa menanam
butir-butiran dan tidak menyiraminya
Penyesalan akan datang pada
hari panennya.
Tulisan ini akan menyebutkan beberapa keutamaan yang
Allah berikan pada bulan suci Ramadhan. Semoga dengan mengetahui keutamaan
tersebut, akan menambah motivasi kita dalam menunaikan kewajiban-kewajiban di
bulan Ramadhan dan dengan itu menjadi persiapan pembekalan untuk hari
kebangkitan.
Disbeutkan dalam sahihain dari Abu Hurairah RA
dari Rasulullah saw bersabda:
إذا جاء رمضان فتحت أبوب الجنة وغـلقت أبواب النار
وصفدت الشياطين
Artinya: apabila datang Ramadhan, maka akan dibuka
pintu-pintu surga dan akan ditutup pintu-pintu neraka.
Syaikh Shalih al ‘Utsaimin menjelaskan bahwa aktifitas
yang sangat langka ini disebabkan banyaknya amal soleh yang ditunaikan, juga
sebagai bentuk penganjuran bagi orang-orang yang suka bermala dalam kebaikan. Sementara
ditutupmnya pintu neraka, karena sedikitnya aktifitas kemaksiatan dari orang-orang
yang beriman, termasuk dalam syaitan dibelenggu.
Keutamaan lainnya adalah sebagaimana diriwayatkan oleh
Imam Ahmad dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah saw bersabda:
أعطيت أمـتى خمس خصال فى رمضان لم تعطـهن أمة من
الأمم قبلها: خلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسلك، وتستغفر لهم الملائكة
حتى تفطروا، ويزين الله كل يوم جنته ويقول: يوشك عبادى الصالحون أن يلقوا عنهم
المؤونة والأذى ويصيروا إليك، وتصفد فيه مردة الشياطين، فلا يخلصون إلى ما كانوا
يخلصون إليه فى غيره، ويغفر لهم فى آخر ليلة. قيل: يا رسول الله أهى ليلة القدر؟
قال: ((لا)) ولكن العامل إنما يوفى أجره إذا قضى عمله.
Artinya; Di bulan Ramadhan, umatku diberikan oleh
Allah swt dengan lima perkara. Kelima perkara ini tidak pernah diberikan kepada
umat sebelumnya, yaitu; 1) bau mulut orang yang berpuasa lebih disukai Allah
dari aroma minyak misik, 2) para malaikat senantiasa memohonkan ampunan bagi orang-orang
yang berpuasa sampai mereka berbuka; 3) Allah akan menghiasi surga setiap
harinya, dan dikatakan, “hawatir Ketika mereka bertemu dengan orang-orang yang
salih, sementara surga dalam keadaan berantakan dan menyakitkan; 4)
syaitan-syaitan dibelenggu; 5) di akhir malam, mereka (orang-orang) yagn
berpuasa akan diampuni. Lalu para sahabat berkata, “ya Rasulullah, apakah itu
hanya untuk malam lailatul qadar?”. Rasulullah saw berkata, “tidak”, itu
diberikan kepada orang-orang yang bekerja menunaikan kewajibannya.
Ini merupakan bentuk kasih sayang dan pengkhususan
umat Rasulllah saw. Dalam kondisi umat yang oleh Nabi Musa AS dinilai akan
banyak umat yang tidak sanggup dalam menanggung beban dan kewajiban ini. Maka disisi
yagn lain, Allah swt dengan kemurahan-Nya memberikan berbagai bentuk
keistimewaan-keistimewaan.
Syaitan bagi manusia adalah jelas sebagai musuh dan “harus”
dijadikan musuh. Sebagiamana firman Allah swt dalam surat Fatir ayat 6
إِنَّ ٱلشَّیۡطَـٰنَ لَكُمۡ عَدُوࣱّ فَٱتَّخِذُوهُ
عَدُوًّاۚ
Artinya: sesungguhnya Syaitan bagi kalian adalah musuh,
maka jadikanlah dia (syaitan) sebagai musuh.
Imam Qurthubi (w. 671 H) dalam penjelasannya
menyebutkan bahwa ayat ini memerintahkan untuk memposisikan dalam permusuhan
dan meniadakan ketaatan kepada syaitan. Hal ini dikarenakan syaitan ini adalah
pihak yang telah mengantarkan Adam AS ke tempat pengasingan dari surga-Nya.
Dan juga motivasi syaitan yang abadi dalam hal menyesatkan
manusia dan membangkitkan angan-angan kosong. Sebagaimana firman-Nya di surat
an Nisa ayat 119:
وَلَأُضِلَّنَّهُمْ
وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ
Artinya: dan aku benar-benar akan menyesatkan
mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka.
Juga firman-Nya dalam surat al A’raf ayat 16:
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ
صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ
Artinya: Iblis menjawab: "Karena Engkau
telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi)
mereka dari jalan Engkau yang lurus.
Sebagai manusia, lebih sering lupa
daripada ingat. Bahkan sering kali sudah ingat, namun pura-pura melupakan. Oleh
karena itu kalimat al qur’an datang dengan redaksi ‘aduwwun fattakhiduhu ‘aduwwan.
Bahkan Imam Fudhail ibn ‘Iyadh
berkata, “wahai jiwa yang pendusta dan penebar kebohongan, takutlan kepada
Allah, dan janganlah kelian cela syaitan dalam kondisi terang-terangan,
sementara kalian taati syaitan dalam kondisi sembunyi-sembunyi”.
Begitu dahsyatnya jera-jerat syaitan
ini. Dan manusia tidak akan sanggup untuk mengenali, bahkan apabila sudah mengenalinya,
justru tambah tersesatnya diri kita, karena seringnya menuruti keinginan
syaitan daripada takut kepada Allah swt.
Di bulan Ramadhan ini, kondisi dan kekuatan
syaitan sangat dibatasi, bahkan dibuat lemah dan tidak berdaya. Maka ini adalah
kesempatan emas dan sangat berharga, di mana kita akan bisa leluasa beribadah,
tanpa ada pihak-pihak yang mengganggu dan menggiring kita ke arah pelanggaran.
Namun, bila kondisi kita justru di
saat-saat ini dalam kondisi yagn terus memproduksi kejahatan dan pelanggaran. Maka
ingatlah aka napa yagn disampaikan oleh Abdullah bin Mas’ud RA:
إذا كان يوم القيامة وأراد الله بعبد خيرا، أعطاه الله كتابه جهرا، وقال له
اقرأ سرا حتى لا يفضحه بين خلقه. فيقرأ سرا فلم يسمعه أحد، فتقول الملائكة إلـهنا
هذه عناية لم تسبق لأحد من العصاة وقد أوعدت من عصاك أن تعذبه وتحرقه بالنار، فيقول
سبحانه وتعالى (( يا ملائكتى إنى أحرقته فى الدنيا بنار الجوع والعطش فى الحر
الشديد فى شهر رمضان فلا أحرقه اليوم بالنيران وقد عفوت عنه وغفرت له ما سلف من
الذنوب والعصيان وأنا الكريم المنان)).
Artinya: apabila datang hari kiamat
dan Allah menginginkan kebaikan kepada hamba-Nya, maka Allah akan berikan kitab
catatan amalnya dengan cara terang-terangan, dan Allah berkata, “bacalah dengan
cara sembunyi-sembunyi, agar terhindar dari celaan di antara hamba-Nya”. Lalu hamba
tersebut membacanya secara sembunyi-sembunyi. Malaikatpun akhirnya bereaksi dan
berkata, “Tuhan kami, ini merupakan bentuk bantuan yang tidak pernah diberikan
kepada seoragn pun dari ahli maksiat, sementara Engkau telah berjanji kepada para
ahli maksiat akan mengadzab mereka dan membakar mereka di neraka?”. Lalu Allah
swt pun menjawab, “wahai Malaikatku, sesungguhnya Aku sudah membakar mereka di
dunia dengan kelaparan dan kehausan pada kondisi panas yang sangat yaitu di
bulan Ramadhan, maka hari ini Aku tidak akan membakar mereka dengan api neraka,
dan sungguh Aku telah memaafkan dan mengampuni merka dari dosa-dosa yagn telah
lalu, Aku adalah Dzat yagn Maha Mulia dan Maha Pemberi kanuria”.
Zawiyah Mubarokah, Rabu, 2 Ramadhan 1445 H/13 Maret 2024
Sabtu, 24 Februari 2024
Malam Nishfu Sya'ban: Cara menghidupkannya
Menghidupkan Malam Nishfu Sya’ban
Oleh: Abu Hasan Mubarok, Gr. S.S.I. M.Pd
Ketua Umum MUI Penajam Paser Utara
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين،
الصلاة والسلام على سيد المرسلين وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد:
Malam pertengahan Sya’ban adalah malam yang telah disepakati dan
disahihkan akan keistimewaannya. Pada malam itu ada keutamaan tersendiri di
bandingkan dengan malam-malam lainnya. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh
Aisyah RA dari Rasulullah saw:
Juga sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Syaibah dalam
Musnafnya;
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : كُنْت إِلَى جَنْبِ النَّبِيُّ
صلى الله عليه وسلم فَفَقَدْته فَابْتَغَيْتُهُ فَإِذَا هُوَ بِالْبَقِيعِ
رَافِعًا يَدَيْهِ يَدْعُو فَقَالَ : يَا بنت أَبِي بَكْرٍ ، أَخَشِيت أَنَّ
يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْك وَرَسُولُهُ ، إنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِي هَذِهِ
اللَّيْلَةِ , لَيْلَة النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ , فَيَغْفِرُ فِيهَا مِنَ
الذُّنُوبِ أَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ مَعْزِ كَلْبٍ.
Artinya: dari
Aisyah berkata, “suatu ketika, saya kehilangan Rasulullah saw di sisiku, lalu
saya telusuri, dan ternyata beliau sedang ada di Baqi’ tengah menengadahkan
kedua tangannya ke langit seraya berdoa. Lalu beliau saw berkata, “wahai
putrinya Abu Bakar, apakah kamu takut Allah akan menghilangkan
utusan-Nya?, sesungguhnya pada malam
hari ini, adalah malam pertengahan Sya’ban, Allah akan mengampuni segala dosa,
meski banyaknya sebilang bulu domba”.
Imam Syafi’i RA juga
memberikan pernyataannya yang terkenal, sebagaimaan dalam Sunan al Kubra lil
Baihaqi bahwa:
وَبَلَغَنَا أَنَّهُ كَانَ
يُقَالُ : إِنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ فِى خَمْسِ لَيَالٍ فِى لَيْلَةِ
الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةِ الأَضْحَى وَلَيْلَةِ الْفِطْرِ وَأَوَّلِ لَيْلَةِ مِنْ
رَجَبٍ وَلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ
Artinya: telah
sampai kepada kami bahwa ada narasi menyebutkan, sesungguhnya doa sangat
dianjurkan pada kelima mala mini, yaitu; 1) malam jum’at, 2) malam ied adha, 3)
malam ied fitri, 4) malam pertama bulan rajab, 5) malam pertengahan sya’ban.
Atas dasar ini, maka tulisan ini akan menjelaska bagaimana
seharusnya menghidupkan malam di malam pertengahan sya’ban atau yang sering
disebut dengan malam nishfu sya’ban.
Pertama, Menghidupkan malam dengan sholat (qiyam al lail)
Pada menghidupkan malam ini dengan sholat bisa dilakukan dengan
sholat tahajud, sholat hajat, sholat tasbeh, dan ditutup dengan sholat witir.
Kedua, memperbanyak membaca istighfar, di antaranya adalah membaca
sayyidul istighfar. Lafaznya adalah:
سَيِّدُ الِاسْتِغْفارِ أنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ أنْتَ رَبِّي لا
إلَهَ إلّا أنْتَ، خَلَقْتَنِي وأنا عَبْدُكَ، وأنا على عَهْدِكَ ووَعْدِكَ
ما اسْتَطَعْتُ، أعُوذُ بكَ مِن شَرِّ ما صَنَعْتُ، أبُوءُ لكَ بنِعْمَتِكَ
عَلَيَّ، وأَبُوءُ لكَ بذَنْبِي فاغْفِرْ لِي؛ فإنَّه لا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ
إلّا أنْتَ.
Keutamaan dari sayyidul istighfar ini adalah barangsiapa yang
membaca doa sayyidul istigfar ini pada waktu siang dengan penuh keyakinan dan
meninggal pada hari itu, maka dia masuk surga. Atau termasuk di antara penduduk
surga, dan bila dibaca pada pagi hari, juga memiliki keutamaan yang sama. Termasuk
bila dibaca pada waktu malam hari.
Ketiga, saling memaafkan dan memberi maaf kepada orang lain baik
diminta maupun tidak diminta.
Keempat, dengan memperbanyak doa.
Di antara doa yang mashur dibaca pada malam pertengahan sya’ban
adalah doa sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya,
Ibnu Abi Dunya dalam ad Du’a dari Abdullah bin Mas’ud RA, juga sebagaimana
diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar RA, lafaz doanya adalah sebagai berikut:
يَا ذَا الْـمَنُّ فَلاَ يَـمُـنُّ عَلَيْهِ، يَا ذَا
الجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ، يَاذَا الطَّوْلِ وَالإِنْـعَامِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ،
ظَـهَرَ اللَّاجِئِيْنَ، وَجَارَ الْـمُسْتَجِيْرِيْنَ، وَمَـأْمَنَ الـخَائِفِيْنَ،
إِنْ كُنْتَ كَـتَبْتَنِى عِنْدَكَ فِى أُمِّ الْكِتَابِ شَقِيًّا، فَامْحُ عَـنىِّ
اْسمَ الشَّقَاءِ، وَأُثْـبُـتْنِى عِنْدَ سَعِيْدًا، مُوْفِقاً لِلْخَيْرِ. وَإِنْ
كُـنْتَ كَـتَبْـتَنِى عِنْدَكَ فِى أُمِّ الْكِتَابِ مَــحْرُوْمًا أَوْ مُـقْـتَرًّا
عَلَيَّ فِى الرِّزْقِ فَامْـحُ حُرْمَـانِى، وَيَـسِّـْر رِزْقِى وَأُثْـبُتْنِى
عِنْدَكَ سَعِيْدًا مُوْفِقًا لِلْخَيْرِ، فَإِنَّكَ تَقُوْلُ فِى كِتَابِكَ الَّذِى
أَنْزَلْتَ (( يَـمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ
)). سور الرعد: 39






