Sya’ban: Selami
Sejarah dan Raih Kemuliaan
Oleh: KH. Abu Hasan
Mubarok
Ketua Umum MUI
Penajam Paser Utara
Disampaikan
pada khutbah jum’at di Masjid ar Razzaq di PT. Eastkal Kaltim, Jum’at, 1
Sya’ban 1446 H atau 31 Januari 2025
الحمد لله، الحمد لله أبدعَ ما أوجدَ،
وأتقنَ ما صنَعَ، وكلُّ شيءٍ لجبروته ذلَّ ولعظمته خضَعَ، سبحانه وبحمده في رحمته
الرجاء، وفي عفوِه الطمعُ، وأُثنِي عليه وأشكُره؛ فكم من خيرٍ أفاضَ ومكروهٍ دفَع،
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعالى في مجده وتقدَّس وفي خلقِه تفرَّد
وأبدَع، وأشهد أن سيدنا ونبيَّنا محمدًا عبدُ الله ورسوله أفضلُ مُقتدًى به وأكملُ
مُتَّبَع، صلَّى الله وسلَّم وبارَك عليه وعلى آله وأصحابه أهل الفضلِ والتّقَى
والورَع، والتابعين ومن تبِعَهم بإحسانٍ ولنهجِ الحق لزِم واتَّبَع، وسلَّم تسليمًا
كثيرًا.
أما بعد: فأُوصيكم - أيها الناس -
ونفسي بتقوى الله، فاتقوا الله - رحمكم الله -؛ فالحياة يعقُبُها الممات،
والأترابُ يُسلِمون للتراب، سبقَ القومُ بكثرة الصلاة والصوم، هجَروا لَذيذَ
المنام، وغايتُهم دارُ السلام، فالجِدَّ الجِدَّ - رحمكم الله - من أجل أن تغنَموا،
والبِدارَ البِدَارَ من قبل أن تندَموا، واطرُقوا في الدُّجَى بابَ الرجاء، الموتُ
بابٌ مورود، والأجلُ غيرُ مردود، ﴿ ذَلِكَ يَوْمٌ
مَجْمُوعٌ لَهُ النَّاسُ وَذَلِكَ يَوْمٌ مَشْهُودٌ * وَمَا نُؤَخِّرُهُ إِلَّا لِأَجَلٍ
مَعْدُودٍ * يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ فَمِنْهُمْ
شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ ﴾ [هود: 103- 105].
Jamaah kaum muslimin sidang solat jum’at yang dimuliakan Allah
swt.
Bulan sya’ban merupakan bulan ke-8, dalam urutan perhitungan
kalender hijriyah. Telah berlalu bulan Rajab, bulan yang Allah swt agungkan dan
muliakan di dalamnya. Dengan datangnya bulan Sya’ban, itu bertanda kita akan
segera merapat ke bulan penuh ampunan, bulan suci Ramadhan. Apa persiapan yang
sudah kita lakukan?
Darul Ifta al Mishiryah merilis fatwa yang menjelakan tentang keutamaan bulan Sya’ban.
Salah satunya disebutkan bahwa bulan Sya’ban merupakan bulan yang
diistimewakan, bulan yang disebut-sebut akan dilakukan pengangkatan amal
perbuatan manusia, oleh karenanya, di bulan ini, kita dianjurkan untuk
meningkatkan amal kebaikan sebanyak-banyaknya, di antaranya meningkatkan amalan
sunnah, puasa sunnah, dan bentuk-bentuk amalan fadhilah lainnya.
Di antara peristiwa yang terjadi di bulan Sya’ban ini adalah;
kelahiran cucu Rasulullah saw, Imam Hasan RA, permulaan perintah puasa di bulan
Ramadhan pada tahun ke-2 Hijriyah, termasuk peristiwa perubahan kiblat dari
Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram juga terjadi di bulan Sya’ban, tepatnya pada
hari ke-17nya, pada saat umat Islam sedang melaksanakan solat duhur di tahun
ke-2 Hijriyah.
Secara khusus, memang bulan sya’ban tidak disebutkan di dalam al
qur’an. Namun, perihal kelalaian manusia banyak disinggung di dalam al qur’an,
salah satunya adalah dalam QS Rum ayat 7, di mana Allah swt berfirman:
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ
الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُون
Artinya: mereka mengerjakan pekerjaan dunia saja, sementara dalam
hal kebutuhan kehidupan akhirat mereka melalaikannya.
Imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa manusia itu sangat perhatian dan
keseriusan dengan urusan duniawi dan cara meraihnya. Namun dalam hal kebutuhan
mereka, kemanfaatan untuk negeri akhirat, manusia sangat lalai. Imam Hasan al
Bahsri berkomentar bahwa manusia itu pandai dalam merubah bentuk dan nilai pada
koin-koin mata uang dengan kuku-kuku mereka, namun dalam hal sholat, mereka
sangat tidak pandai dan sempurna.
Jamaah kaum muslimin sidang solat jum’at yang dimuliakan Allah
swt.
Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid RA berkata; saya bertanya kepada
Rasulullah saw perihal status beliau berpuasa ketika di bulan Sya’ban. Usamah
melihat Rasulullah saw paling banyak berpuasa pada bulan Sya’ban di banding
bulan lainnya. Melihat kecerdasan perhatian sahabat ini, beliau saw berkata:
ذلك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى
رب العالمين فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم “.
رواه النسائي.
Artinya: ini adalah bulan yang suka dilalaikan oleh manusia, yaitu
antara Rajab dengan Ramadhan. Di bulan ini, amalan manusia akan diangkat kehadirat
Allah swt, maka saya senang berpuasa di saat pengangkatan amalan ini. HR. Nasai
Bahkan Sayyidah Aisyah RA sebagaimana diriwayatkan oleh Imam
Bukhari RA, bahwa Rasulullah saw sering sekali berpuasa di bulan Sya’ban,
sampai-sampai beliau disebut tidak pernah berbuka.
Bahkan dalam riwayat lain, Imam Ahmad dan Abu Daud menceritakan
bahwa Rasulullah saw sangat mencintai bulan Sya’ban ini dan ketika berpuasa di
dalamnya bahkan dilanjutkan sampai puasa di bulan Ramadhan.
Jamaah kaum muslimin sidang solat jum’at yang dimuliakan Allah
swt.
Penamaan bulan bagi orang-orang Arab memang sangat diinspirasi
dengan peristiwa dan budaya mereka. Syaikh Badruddin al ‘Aini dalam umdahtul
qari fi sharah sahih bukhari menjelaskan tentang penamaan bulan sya’ban
ini. Beliau berkata bahwa sya’ban itu diambil berdasarkan budaya orang Arab
kala itu yang suka berkumpul setelah tercerai-berai dalam pencarian air,
sebagai bahan persediaan mereka. Jadi lafaz sya’ban adalah berasal dari lafaz sya’b artinya
berkumpul.
Dari gambaran ini, bisa kita ambil pelajaran bahwa bulan sya’ban
adalah bulan evaluasi dari persiapan menghadapi suatu hajatan besar yaitu bulan
berikutnya, bulan suci Ramadhan.
Namun jangan sampai lupa, bahwa di bulan sya’ban ini ada suatu
malam yang sangat Istimewa, yaitu malam pertengahan bulan sya’ban, atau sering
disebut dengan lailatu nishfu sya’ban.
Malam pertengahan sy’aban merupakan malam yang harus diperhatikan,
sebab pada malam tersebut sangat dianjurkan umat Islam untuk beristigfar,
berdoa, taubat, merancang dan mengevaluasi kehidupannya, dan sebagaimana
dituturkan oleh Rasulullah saw bahwa malam pertengahan sya’ban adalah malam
diangkatnya amalan perbuatan kehadirat Allah swt.
Disebutkan dalam riwayat Ibnu Majah, bahwa Rasulullah saw
bersabda:
إذا كانت ليلة النصف من شعبان فقوموا
ليلها و صوموا نهارها
Artinya: apabila telah sampai pada malam pertengahan bulan
Sya’ban, maka hidupkanlah malam harinya dan berpuasalah di siang harinya. HR.
Ibnu Majah
Dan amalan yang paling disukai oleh Allah swt pada malam hari
adalah sholat malam. Disebutkan dalam riwayat Muslim, bahwa Rasulullah saw
bersabda:
أفضل الصلاة بعد الفريضة صلاة الليل
Artinya: sebaik-baik sholat sesudah sholat fardhu adalah sholat
pada waktu malam. HR. Muslim
Beberapa riwayat yang menjelaskan tentang bagaimana kemuliaan
malam pertengahan sya’ban ini di antaranya adalah:
Riwayat dari Ahmad dan Thabrani bahwa:
إن الله عز وجل ينزل إلى السماء الدنيا
ليلة النصف من شعبان فيغفر لأكثر من شَعْرِ غَنَمِ بني كلب، وهي قبيلة فيها غنم
كثير”.
Artinya: sesungguhnya Allah swt turun ke langit dunia pada malam
pertengahan sya’ban, maka akan diampuni semua dosa sebanyak bulu di kulit
kambing bagi Kalb.
Imam Tirmidzi berkata bahwa hadits ini dinilai oleh Imam Bukhari
sebagai hadits yang lemah. Begitupula imam Ad Daruquthni. Namun demikian, dalam
hal keutamaan beramal, maka hal ini dibolehkan untuk memotivasi kita dalam
meningkatkan amal-amal kebaikan.
Juga hadits yang diriwayakn oleh Aisyah RA:
قام رسول الله ـ ﷺ
ـ من الليل فصلى فأطال السجود حتى ظننت أنه قد قُبِضَ، فَلَمَّا رفع رأسه من
السجود وفرغ من صلاته قال: “يا عائشة ـ أو يا حُميراء ـ ظننت أن النبي ـ ﷺ
ـ قد خَاسَ بك”؟ أي لم يعطك حقك .قلت:
لا والله يا رسول الله ولكن ظننت أنك قد قبضتَ لطول سجودك، فقال: “أَتَدْرِينَ
أَيُّ ليلة هذه”؟ قلت: الله ورسوله أعلم، قال “هذه ليلة النصف من شعبان، إن الله
عز وجل يطلع على عباده ليلة النصف من شعبان، فيغفر للمستغفرين ، ويرحم
المسترحِمِينَ، ويُؤخر أهل الحقد كما هم” رواه البيهقي من طريق العلاء بن الحارث
عنها، وقال: هذا مرسل جيد. يعني أن العلاء لم يسمع من عائشة .
Artinya: suatu malam, Rasulullah saw solat dengan sujud yang agak
lama, sampai saya mengira beliau saw sudah dipanggil oleh Allah swt, namun
tiba-tiba, beliau mengangkat kepalanya dan setelah selesai sholatnya, beliau
berkata, “wahai Aisyah, ya humaira, kamu kira, nabimu ini telah mengabaikanmu
atau tidak memberi hak kepadamu?” maka saya menjawab, “tidak wahai Nabi, saya
mengira bahwa engkau telah diambil oleh-Nya, karena lama sujud”. Lalu Nabi
berkata, “Tahukan kamu, ini malam apa?” Aisyah menjawab, “Allah dan rasulnya
yang lebih tahu”. Nabi katakana, “ini adalah malam pertengahan bulan Sya’ban,
sesungguhnya Allah swt akan menampakan diri-Nya pada malam ini kepada
hamba-hamba-Nya, kemudian akan melakukan pengampunan bagi orang yang meminta,
akan memberikan kasih sayang-Nya, bagi yang meminta, dan khusus bagi orang yagn
masih punya kedengkian dengan saudaranya akan ditangguhkan sebagaimana
kondisinya”. HR. Al Baihaqi.
Hadits ini sekalipun dinilai lemah, namun imam al Baihaqi
mengatakan hadits ini termasuk mursal jayyid. Atau hadits yang
diriwayatkan oleh seorang dari generasi tabi’in kepada sahabat, sementara
dirinya tidak pernah mendengar dari sumber pertamanya.
Jamaah kaum Muslimin sidang sholat jum’at yang dimuliakan Allah
swt
Meskipun Rasulullah saw secara khusus tidak ada riwayat yang
menjelaskan akan perlakuan terhadap malam ini, namun menurut Imam al
Qashthalani dalam al mawahib alladuniyah disebutkan bahwa kalangan
tabi’in yang Bernama Kholid bin Mi’dan dari Syam dan Makhul berserta yang lain
sering mengadakan pertemuan dan meningkatkan keseriusan dalam beribadah di
malam nishfu sya’ban ini. Olah karena itu, Masyarakat kemudian menjadikan dan
mengikutinya.
Oleh karenanya, Imam al Qashthalani kemudian melanjutkan bahwa
para ulama terbagi menjadi dua pendapat dalam hal metode menghidupan malam
pertengahan bulan sya’ban. Pertama, kalangan ulama berpendapat boleh dan
disukai atau mustahab. Baik diselenggarakan secara berjamaah di masjid
dan tempat lainnya. Pendapat ini dipegang oleh Khlid bin Ma’dan, Luqman bin
‘Amir dan lainnya.
Metode mereka adalah dengan menggunakan baju-baju yang bagus,
menggunakan wangi-wangian, bercelak, dan amalan performance sunnah lainnya.
Metode ini akhirnya disepakati oleh Imam Ishaq bin Rahawaih (166-238 H). Ishaq
bin Rahawaih sendiri merupakan ulama besar yang telah diakui akan kealimannya
dan ketakwaannya. Bahkan imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, sulit sekali mencari
tandingan Imam Ishaq bin Rahawaih ini.
Pendapat yang kedua mengatakan bahwa menghidupkan malam
pertengahan bulan sya’ban merupakan perkara yang tidak disukai, apalagi dengan
berkumpul di masjid untuk melaksanakan solat tertentu, bercerita, dan lain
sebagainya. Salah satu punggawanya adalah Imam al Auza’I (88-157 H). imam Ahmad
bin Hanbal menceritakan tentang imam al Auza’i ini bahwa, “suatu ketika Sufyan
Tsauri dan Auza’i menemui Malik bin Anas. Setelah selesai keduanya keluar dari
rumah Imam Anas, maka Ahmad bin Hanbal berkata, “Salah satu di antara keduanya
adalah lebih ‘alim, dan satunya adalah sosok yang layak untuk dijadikan imam,
dan Auza’I layak menjadi imam”.
Namun demikian, jamaah yang dimuliakan Allah swt bahwa bulan
sya’ban adalah bulan yang sangat diperhatikan oleh Rasulullah saw, beliau saw
sangat menganjurkan kepada kita semuanya untuk jangan melawatkan satu hari,
satu malam di bulan Sya’ban ini kecuali dengan amalan-amalan kebaikan dan
kesalehan.
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم
الله الرحمن الرحيم، والعصر إن الإنسان لفى خسر، إلا الذين آمنوا وعملوا الصالحات
وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر. بارك الله لى ولكم في القرآن العظيم، ونفعنى وإياكم
بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، أقول قولى هذا، وأستغفر الله العظيم، استغفروه
إنه هو الغفور الرحيم...
الخطبة الثانية
إن الحمد لله تقدَّس ذاتًا وصفاتٍ وجمالاً،
وعزَّ عظمةً وعلوًّا وجلالاً، وتعالى مجدًا ورفعةً وكمالاً، أحمده - سبحانه - برَى
الخلائقَ فلا نقصَ يعرُوها ولا اعتِلالاً. لك الحمدُ حمدًا طيبًا ومُبارَكًا، لك
الحمدُ مولانا عليك المُعوَّلُ، لك الحمدُ أعلى الحمد والشكرِ والثَّنا، أعزُّ
وأزكَى ما يكونُ وأفضلُ. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له شهادةً تعنُو
لها القلوبُ خضوعًا وامتِثالاً، وأشهد أن نبيَّنا وسيدَنا محمدًا عبدُ الله
ورسولُه خيرُ من عظَّمَ اللهَ أقوالاً وفِعالاً، صلَّى الله عليه وعلى آله الأُلَى
دامَ فيهم الفضلُ هطَّالاً، وصحبِه الذائِدين عن الإسلام كُماةً أبطالاً،
والتابعين ومن تبِعهم بإحسانٍ ما تعاقبَ النيِّرانِ وتوَالَى، وسلَّم تسليمًا
مُبارَكًا سَلسالاً.
أما بعد: فاتقوا الله - عباد الله -،
واعلَموا أن التقوى نورُ القلوب إلى خشيةِ الله ومِشكاتُها، وسبيلُ محبَّته
ومَرقاتُها، وبُرهانُ رهبتِه ودَلالاتُها، ﴿ يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا
اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴾ [الحشر:
18]...
واعلموا أيها الأحباء عن قول الله
تعالى: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴾ [الأحزاب:
56].
فصلُّوا وسلِّموا على سيد الأولين
والآخرين وإمام المرسلين، اللهم صلِّ على محمدٍ وعلى آل محمدٍ كما صليت على
إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمدٍ وعلى آل محمدٍ كما
باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميدٌ مجيدٌ وسلِّم تسليمًا كبيرًا.
اللهم وارضَ عن الصحابة أجمعين وعن
الخلفاء الراشدين الأئمة المهديين أبي بكر وعمر وعثمان وعلي وعن سائر أصحاب نبيك
أجمعين وعن التابعين ومن تبعهم بإحسانٍ إلى يوم الدين، اللهم وارضَ عنَّا بمنِّك
وكرمك ورحمتك يا أرحم الراحمين.
اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات
والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات. اللهم أعزَّ الإسلام والمسلمين، وأذل
الكفر والكافرين يا رب العالمين. اللهم ألِّف بين قلوب المسلمين على الحق يا أرحم
الراحمين، اللهم أصلح ذات بينهم واهدهم سبل السلام وانصرهم على عدوك وعدوهم يا قوي
يا عزيز، اللهم انصر دينك وكتابك وسنَّة نبيك يا قوي يا عزيز. اللهم فرِّج همَّ
المهمومين من المسلمين ونفث كرب المكروبين من المسلمين، اللهم واشفِ مرضانا ومرضى
المسلمين يا رب العالمين، اللهم اغفر لموتانا وموتى المسلمين، اللهم ضاعف حسناتهم
وتجاوز عن سيئاتهم يا أرحم الراحمين. اللهم يا رب العالمين يا رحمن يا رحيم يا
مالك يوم الدين اللهم أغثنا، اللهم أنت الغني ونحن الفقراء اللهم أغثنا، اللهم
أنزل علينا الغيث ولا تجعلنا من القانطين، اللهم لا تؤاخذنا بما فعل السفهاء منَّا
يا رب العالمين، اللهم أنزل علينا الغيث، اللهم أغثنا غيثا عاجلا يا أرحم
الراحمين. اللهم أعذنا وذرياتنا من إبليس وذريته وجنوده وشياطينه يا رب العالمين،
اللهم أعذ المسلمين من الشيطان الرجيم من إبليس وذريته والشياطين وجنوده يا رب
العالمين إنك على كل شيء قدير. اللهم اجعل بلادنا آمنة مطمئنة رخاء سخاء وسائر
بلاد المسلمين يا رب العالمين، اللهم آمنا في أوطاننا وأصلح اللهم ولاة أمورنا. اللهم
أحسن عاقبتنا في الأمور كلها، وأجرنا من خزي الدنيا وعذاب الآخرة، يا حي يا قيوم
برحمتك نستغيث أصلح لنا شأننا كله. اللهم أعذنا من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا،
وأعذنا من شر كل ذي شرٍ يا رب العالمين.
﴿ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴾ [البقرة: 201].
عباد الله: ﴿ إِنَّ اللَّهَ
يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ * وَأَوْفُوا بِعَهْدِ
اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ
جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلًا إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ ﴾ [النحل:
90 - 91].
اذكروا الله العظيم الجليل يذكركم،
واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر والله يعلم ما تصنعون.