Khutbah Jum'at, 29/12/2023
Bagaimana
Merayakan Kebahagiaan?
Oleh:
Abu Hasan Mubarok, Gr. S.SI. M.Pd
Ketua
Umum MUI Kab. Penajam Paser Utara
الحمد لله الذي زين قلوب
أوليائه بأنوار الوفاق، وسقى أسرار أحبائه شرابًا لذيذ المذاق، وألزم قلوب
الخائفين الوجَل والإشفاق، فلا يعلم الإنسان في أي الدواوين كتب ولا في أيِّ
الفريقين يساق، فإن سامح فبفضله، وإن عاقب فبعدلِه، ولا اعتراض على الملك الخلاق.
أشهد أن لا إله إلا الله،
وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد، وهو على كل شيء قدير، إلهٌ عزَّ مَن اعتز به
فلا يضام، وذلَّ مَن تكبر عن أمره ولقي الآثام. وأشهد أن سيدنا وحبيبنا وشفيعنا محمدًا عبد الله ورسوله، وصفيه من خلقه
وحبيبه، خاتم أنبيائه، وسيد أصفيائه، المخصوص بالمقام المحمود، في اليوم المشهود،
الذي جُمع فيه الأنبياء تحت لوائه.
اللهم صل على سيدنا محمد
وعلى آله وصحبه ومن تبع الهدى إلى يوم الدين، أما بعد:
فيا عباد الله أوصي نفسى
وإياكم بتقوا الله بإقامة أوامر الله واجتناب نواهيه، ومن يتق الله فقد فاز، قال
الله تعالى (( وَٱتَّقُوا۟ یَوۡمࣰا لَّا تَجۡزِی نَفۡسٌ عَن نَّفۡسࣲ شَیۡـࣰٔا
وَلَا یُقۡبَلُ مِنۡهَا عَدۡلࣱ وَلَا تَنفَعُهَا شَفَـٰعَةࣱ وَلَا هُمۡ یُنصَرُونَ
))
Jamaah sidang solat jum’at yang dimuliakan Allah swt.
Kebahagiaan dan
kesengsaraan diibaratkan dua sisi mata uang. Keduanya tidak bisa saling dipisahkan.
Cuman perbedaannya adalah bahwa kebahagiaan adalah hal yang paling dicari oleh
setiap manusia dan diharapkan, sementara kesengsaraan adalah hal yang paling
tidak disukai dan dihindari.
Di dalam al qur’an
surat Yunus ayat 58, Allah swt berfirman:
قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ
وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَ ٰلِكَ
فَلۡیَفۡرَحُوا۟ هُوَ خَیۡرࣱ مِّمَّا یَجۡمَعُونَ
Artinya:
katakanlah (Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaknya dengan
itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yagn mereka kumpulkan”.
Dari ayat ini kita
bisa memaknai bahwa kebahagiaan adalah perintah dari Allah swt. Namun, syarat
utama dalam memaknai kebahagiaan itu sendiri adalah dengan kesadaran dan
merasakan akan adanya karunia dan rahmat Allah swt.
Imam Asy
Syaukani (w. 1250 H) dalam Fathul Qadir menjelaskan bahwa menurut Abdullah bin
Abbas bahwa yagn dimaksud dengan karunia Allah adalah al qur’an, sedangkan rahmat
Allah adalah ajaran Islam. Dengan ini menjadi jelas bahwa landasan seorang
mukmin dalam merasakan dan merayakan kebahagiaan adalah pada al qur’an dan
ajaran Islam.
Ingat bagaimana
dahulu Ketika orang-orang Aus dan Khazraj yang sedarah kandung, selama ratusan
tahun selalu berperang dan bertikai, hingga pada hal-hal yagn paling sepele pun
mereka akan bertikai. Padahal dahulunya, mereka berasal dari satu keturunan.
Abu al Hajjaj al ‘Asyari dalam at ta’rif bil ansab wa tanbih bi dzawil ahsab
mengatakan bahwa suku Aus dan Khazraj merupakan dua putra dari Haitsah al ‘Unaqa
bin Amar bin Amir, sementara ibunya adalah Qailah bintu al Arqam bin Amar.
Setelah Islam
datang, keduanya menyatu dan Kembali ke pangkuan persaudaraan. Ini adalah suatu
contoh kebahagiaan sejati pada manusia. Maka tidak heran, Ketika Imam Syaukani
menjelaskan lebih lanjut bahwa huruf fa pada lafaz falyafrakhu
adalah jawab syarat di mana struktur kalimatnya adalah,
إنْ فَرِحُوا
بِشَيْءٍ فَلْيَخُصُّوا فَضْلَ اللَّهِ ورَحْمَتَهُ بِالفَرَحِ.
Artinya: apabila
mereka bergembira dengan sesuatu, maka ingatlah dengan karunia dan rahmat
Allah.
Al farah itu
sendiri adalah kenikmatan di dalam hati dengan sebab adanya capaian harapan.
Jamaah sidang solat jum’at yang dimuliakan Allah swt.
Momentum Desember
acapkali dijadikan sebagai momentum liburan, momentum pelepas kerinduan antara
anggota keluarga, karena biasanya ada hari libur di akhir tahun. Oleh karenanya,
momentum liburan ini dimanfaatkan untuk merayakan dan menjadi sebab
kebahagiaan. Apalagi disambut dengan momentum pergantian tahun baru.
Biasanya, orang
akan merayakan tahun baru dengan penuh suka cita dan harapan. Tidak sedikit
orang menyiapkan dan mengeluarkan uang untuk bersenang-senang, bergembira, dan
bahkan ini hal yang sangat disayangkan momentum itu dijadikan sebagai sarana untuk
kesempatan melanggar perintah Allah swt. Banyaknya perzinahan, perkelahian,
hura-hura, pemborosan, dan lain sebagainya. Itu adalah contoh-contoh bagaimana
merayakan kebahagiaan yang tidak diridhai Allah swt.
Allah swt
mengingatkan kepada kita semuanya akan firmannya di surat Ghafir ayat 75-76:
ذلِكُمْ
بِمَا كُنْتُمْ تَفْرَحُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ
تَمْرَحُونَ - ٱدۡخُلُوۤا۟ أَبۡوَ ٰبَ جَهَنَّمَ خَـٰلِدِینَ فِیهَاۖ
فَبِئۡسَ مَثۡوَى ٱلۡمُتَكَبِّرِینَ
Artinya: yang
demikian itu disebabkan karena kamu bersuka ria di bumi (tanpa) mengindahkan
kebenaran dan krena kamu selalu beruka ria dalam kemaksiatan. Masuklah kalian
ke dalam neraka Jahannam selamanya, alangkah buruknya orang-orang yang berlaku
sombong yang akan menempati Jahannam.
Imam Ibnu Katsir
(w. 774 H) menjelaskan bahwa ini adalah rangkaian ayat-ayat tentang kondisi
orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah, tidak mempercayai kebenaran dari
Allah swt, dan bahkan mereka suka menggunakan dalih, menentang dan cenderung pada
kebathilan, akal mereka tidak digunakan untuk mencari petunjuk.
Jamaah sidang solat jum’at yang dimuliakan Allah swt.
Gunakanlah uang
sebagai rizki yang telah Allah swt titipkan kepada kita untuk kebaikan, niatkanlah
untuk menjaga ukhuwah/persaudaraan sesama Muslim, bangsa dan negara. Jadikan waktu-waktu
tersebut sebagai sarana untuk bersyukur, bukan untuk menambah kekufuran.
Allah swt sangat
mengecam keras tindakan orang-orang yang tidak bisa mensukuri nikmat-Nya. Di dalam
surat Ibrahim ayat 7;
وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَىِٕن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِیدَنَّكُمۡۖ
وَلَىِٕن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِی لَشَدِیدࣱ
Artinya: dan ingatlah
Ketika Tuhanmu memaklumkan, sesunguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan
tambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti
azab-Ku sangat berat.
Dalam ayat ini,
Ibnu Katsri (w. 774 H) memaparkan bahwa penggunaan lafaz taadzdzana
adalah memiliki makna mendeklarasikan akan ancaman, bisa juga bermakna Tuhanmu
bersumpah dengan kemuliann-Nya, keagungan-Nya.
Membelanjakan nikmat
yang telah Allah berikan bukan di jalur untuk mendekat kepada-Nya merupakan
suatu bentuk kekufuran. Imam Ibnu Katsir mengatakan ada dua bentuk kekufuran
terhadap nikmat Allah swt, yaitu; pertama; menyembunyikan (الستر)
dan menyangkal atau tidak berterimakasih (الجحود).
Di dalam musnad
imam Ahmad ada sebuah riwayat yang menggambarkan bagaimana Rasulullah saw
memberikan apresiasi akan kesyukuran. Dari Tsabit dan Anas berkata:
أَتَى
النَّبِيَّ ﷺ سَائِلٌ فَأَمَرَ لَهُ بِتَمْرَةٍ فَلَمْ يَأْخُذْهَا -أَوْ: وَحِشَّ
بِهَا -قَالَ: وَأَتَاهُ آخَرُ فَأَمَرَ لَهُ بِتَمْرَةٍ، فَقَالَ: سُبْحَانَ
اللَّهِ! تَمْرَةٌ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ. فَقَالَ لِلْجَارِيَةِ: "اذْهَبِي
إِلَى أُمِّ سَلَمَةَ، فأعطيه الأربعين درهما التي عِنْدَهَا".
Suatu Ketika Rasulullah saw didatangi oleh dua orang pengemis, lalu
Rasulullah saw menyodorkan kurma, kemudian si pengemis tadi menolaknya. Lalu datang
pengemis yagn kedua, dan dia menerima kurma pemberian Rasulullah saw dan berucap,
“ini adalah kurma dari Rasulullah saw”. Lalu Rasulullah saw pun berkata kepada
pembantunya, “pergilah ke Ummu Salamah dan berikanlah pengemis ini 40 dirham
yang dimilikinya”.
Dari hadits ini menunjukan bahwa karunia yang baik akan Kembali kepada
kebaikan pula. Dan penerimaan yang baik akan dibalas dengna penerimaan yagn
lebih baik pula. Demikian pula dengan harta kita. Jangan sampai momentum
kebersamaan, momentum kebahagiaan Bersama keluarga, teman dan rekan-rekan, akan
berubah menjadi sikap kita dalam mengkonfirmasi bahwa kita adalah bukan
orang-orang yang pandai dalam mensyukuri nikmat. Karena ancaman orang-orang seperti
ini adalah Jahannam dan kemurkaan dari Allah swt.
Sebaliknya, manfaatkanlah karunia Allah swt tersebut sebagai sarana
untuk bahagia, dan mendekatkan diri kepada Allah swt. Ingatlah bahwa kehidupan
itu hanyalah sesaat, sementara kehidupan akhirat adalah kekal dan abadi
selama-lamanya.
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
– بسم الله الرحمن الرحيم – والعصر إن الإنسان لفى خسر – إلا الذين أمنوا وعملوا
الصالحات وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر.
بارك الله لى ولكم فى القرآن
الكريم ونـفعـنى وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، أقول قولى هذا وأستغفر
الله العظيم لى ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات فاستغفروا إنه هو الغفور الرحيم.