Minggu, 01 Februari 2026

Kedudukan Akal dalam Ajaran Islam: Perspektif Al-Qur’an, Hadis, dan Pemikiran Ulama

Kedudukan Akal dalam Ajaran Islam: Perspektif Al-Qur’an, Hadis, dan Pemikiran Ulama

Author: KH. Abu Hasan Mubarok

Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Penajam Paser Utara, Indonesia

Email: aquaputih2014@gmail.com

Abstract

Reason occupies a fundamental position in Islamic teachings as a core element that distinguishes human beings from other creatures and serves as the basis for religious obligation (taklīf). This article aims to examine the position and function of reason in Islam through an analysis of Qur’anic verses, Prophetic traditions, and classical Muslim scholars’ perspectives. This study employs a qualitative library research method with a normative-theological approach, focusing on primary sources such as the Qur’an and Hadith, as well as authoritative classical tafsīr and fiqh literature. The findings reveal that Islam consistently encourages the active use of reason, as reflected in the Qur’anic use of verbal forms of ’aql rather than nominal forms. Reason functions as a tool for recognizing God’s existence and oneness, understanding divine revelation, distinguishing between right and wrong, and supporting ijtihād in legal reasoning. However, reason in Islam is not autonomous; it must operate in harmony with revelation to avoid epistemological error. The study concludes that the balance between reason and revelation constitutes a central principle in Islamic epistemology and legal thought.

Keywords: reason, Islam, Qur’an, Hadith, ijtihād

 

A. INTRODUCTION

Akal (ʿaql) menempati posisi yang sangat penting dalam ajaran Islam dan berperan sentral dalam pembentukan tanggung jawab manusia terhadap perintah dan larangan Tuhan. Dengan akal, manusia mampu memahami wahyu, mengenali nilai-nilai moral, serta membedakan antara kebenaran dan kesesatan. Al-Qur’an secara konsisten mendorong manusia untuk berpikir, merenung, dan menggunakan potensi intelektualnya, yang menunjukkan bahwa Islam tidak menafikan rasionalitas, melainkan menempatkannya dalam kerangka petunjuk Ilahi.

Meskipun demikian, diskursus mengenai akal dalam Islam sering kali terjebak pada dua kutub ekstrem. Di satu sisi, rasionalisme berlebihan cenderung mengedepankan akal di atas wahyu, sementara di sisi lain, tekstualisme kaku mengabaikan peran akal dalam memahami dan mengontekstualisasikan ajaran Islam. Kondisi ini menimbulkan kesenjangan konseptual dalam memahami relasi ideal antara akal dan wahyu sebagaimana diajarkan dalam sumber-sumber otoritatif Islam.

Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini bertujuan untuk menganalisis kedudukan dan fungsi akal dalam ajaran Islam dengan merujuk pada Al-Qur’an, hadis Nabi Muhammad SAW, serta pandangan para ulama klasik. Kajian ini diharapkan dapat mempertegas bahwa Islam membangun kerangka epistemologis yang seimbang, di mana akal dan wahyu saling melengkapi dan tidak saling menegasikan.

B. LITERATURE REVIEW

Kajian tentang akal dalam Islam telah banyak dibahas dalam literatur klasik maupun kontemporer. Dalam studi-studi tafsir Al-Qur’an, istilah ’aql dan turunannya disebutkan berulang kali dalam bentuk kata kerja, yang menegaskan bahwa akal harus difungsikan secara aktif. Al-Ṭabarī menafsirkan seruan rasional dalam Al-Qur’an sebagai upaya membangkitkan kesadaran moral dan tanggung jawab manusia di hadapan Allah.

Ibn Kathīr menekankan bahwa pengabaian terhadap fungsi akal dapat menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan, sebagaimana digambarkan dalam ayat-ayat yang menceritakan penyesalan penghuni neraka akibat tidak menggunakan pendengaran dan akalnya. Sementara itu, Al-Ghazālī memandang akal sebagai fondasi utama pengetahuan dan pemahaman, karena tanpa akal tidak mungkin terjadi proses belajar dan internalisasi nilai.

Dalam konteks hukum Islam, Imām al-Shāfiʿī menegaskan bahwa akal yang sahih tidak mungkin bertentangan dengan wahyu. Apabila muncul kesan pertentangan antara keduanya, maka permasalahan tersebut terletak pada keterbatasan penalaran manusia, bukan pada nash itu sendiri. Pandangan-pandangan ini menunjukkan bahwa akal memiliki peran esensial dalam Islam, namun tetap berada dalam koridor bimbingan wahyu.

Perhatikan juga firman-Nya QS al Muluk ayat 11:

وَقَالُوا۟ لَوۡ كُنَّا نَسۡمَعُ أَوۡ نَعۡقِلُ مَا كُنَّا فِیۤ أَصۡحَـٰبِ ٱلسَّعِیرِ ۝١٠ فَٱعۡتَرَفُوا۟ بِذَنۢبِهِمۡ فَسُحۡقࣰا لِّأَصۡحَـٰبِ ٱلسَّعِیرِ

Artinya: Dan mereka berkata, "Sekiranya dahulu kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) tentulah kami tidak termasuk penghuni neraka Sa'ir (neraka yang menyala-nyala)." Maka mereka mengakui dosa mereka. Maka celakalah penghuni neraka Sa'ir itu.

 

Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) mengatakan bahwa akal yang tidak difungsikan ini mengakibatkan tidak mendapatnya kita akan petunjuk, dan akhirnya kita akan digiring ke neraka sa’ir.

Di kalangan para mufassir, akal didefinisikan sebagai wadah fitrah dan alat untuk mengendalikan perilaku manusia yang dibangun atas dasar mewujudkan pemahaman tentang lingkungan material.

Digambarkan antara akal dan hati adalah seperti hati adalah raja yang memiliki seorang ksatria bernama akal, dan seekor kuda bernama fuad (hati yang mendalam). Tingkat kebaikan dan kehancuran kerajaan ini ditentukan ketika salah satu dari mereka menunggangi yang lain.

Dengan akal ini, manusia diberikan beban berupa perintah dan larangan, karena fungsi akal adalah di antaranya:

  • Membedakan yang benar dari yang salah
  • Membedakan yang baik dari yang buruk
  • Menerima atau menolak suatu dalil dan argumen

 

Imam Al-Ghazali rahimahullāh mengatakan bahwa akal adalah “asal pengetahuan dan landasan pemahaman”; tanpa akal, tidak ada konsep mengetahui dan belajar.

Al Qur’an memerintahkan untuk menggunakan akal. Perhatikan hadits berikut ini:

عَنْ أَبِي البَخْتَريّ الطَّائِيِّ قَالَ: أَخْبَرَنِي مَنْ سَمِعَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: "لَنْ يَهْلِكَ النَّاسُ حَتَّى يُعذِروا مِنْ أَنْفُسِهِمْ

Artinya: Diriwayatkan dari Abu al-Bakhtari ath-Tha'i, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku orang yang mendengarnya dari Rasulullah bahwa beliau bersabda: "Manusia tidak akan binasa hingga mereka saling memberi alasan (udzur) dari diri mereka sendiri."

Di dalam al qur’an redaksi-redaksi yang Allah swt gunakan adalah redaksi fi’il atau kata kerja untuk akal. Ini menunjukan bahwa akal itu harus difungsikan dan diposisikan pada tempatnya.

أَفَلَا تَعْقِلُونَ – “Apakah kamu tidak berakal?”
لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ – “Agar kamu berakal.”
لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ – “Bagi kaum yang berakal.”

Rasulullah saw sendiri melihat akal itu adalah standar dalam suatu amanah. Apabila seseorang belum atau berakal matang atau hilang akal. Maka gugurlah syari’at kepadanya. Perhatikan sabda beliau berikut ini:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ: عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ، وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ

Artinya: “Diangkat pena (pencatat amal) dari tiga golongan: dari orang yang tidur sampai ia bangun, dari anak kecil sampai ia baligh, dan dari orang gila sampai ia berakal.” (HR. Abū Dāwud, At-Tirmidzi)

Fungsi Utama Akal secara ringkas, adalah agar mengantarkan kita:

  1. Menunjukkan keberadaan dan keesaan Allah
  2. Mengantarkan kepada iman kepada Allah dan rasul-Nya
  3. Mendorong manusia untuk beribadah dan bersyukur kepada Allah
  4. Memahami dalil-dalil syariat dan menerapkannya dalam kehidupan

 

Jangan sampai kita mengikuti jejak dan langkah Iblis dalam menggunakan akal. Iblis telah keliru dalam menggunakan akalnya, sehingga melakukan analisis dan analogi yang keliru.

قَالَ أَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِى مِن نَّارٍۢ وَخَلَقْتَهُۥ مِن طِينٍ

Artinya: “(Iblis) berkata, ‘Aku lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’” (QS. Al-A‘rāf: 12)

Iblis mendahulukan logika dangkalnya atas perintah Allah, sehingga terjerumus dalam kemaksiatan pertama di langit. Dari ayat ini, maka perintah Allah harus didahulukan akal, dan oleh karena itu, akal yagn sehat tidak akan berlawanan dengan wahyu yang murni. 

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍۢ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

Artinya: “Tidaklah patut bagi laki-laki yang beriman dan perempuan yang beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka.” (QS. Al-Azāb: 36)

C. METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan kualitatif.

1. Desain Penelitian

Penelitian ini mengadopsi pendekatan normatif-teologis, dengan fokus pada analisis tekstual sumber-sumber primer Islam dan karya-karya ilmiah klasik.

2. Sumber Data

Data terdiri dari sumber primer seperti Al-Qur'an dan Hadis, serta sumber sekunder termasuk tafsir klasik, tulisan-tulisan yurisprudensi, dan interpretasi ilmiah terkait akal dalam Islam.

3. Teknik Pengumpulan Data

Data dikumpulkan melalui analisis dokumen teks-teks relevan yang membahas konsep, fungsi, dan batasan akal dalam ajaran Islam.

 

4. Teknik Analisis Data

Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif dan interpretatif untuk mengidentifikasi pola, tema, dan implikasi teoretis mengenai posisi akal dalam Islam.

 

D. HASIL

Analisis menunjukkan bahwa akal dalam Islam memiliki beberapa fungsi fundamental. Pertama, ia berfungsi sebagai sarana untuk mengenali keberadaan dan keesaan Tuhan. Kedua, akal memungkinkan manusia untuk memahami wahyu ilahi dan menginternalisasi ajaran moral. Ketiga, akal menjadi dasar tanggung jawab hukum, karena individu yang tidak memiliki kapasitas rasional dibebaskan dari kewajiban agama.

Lebih lanjut, akal memainkan peran krusial dalam proses ijtihad, khususnya dalam menangani masalah hukum yang tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur'an dan Sunnah. Namun, ajaran Islam secara jelas melarang penyalahgunaan akal yang bertentangan dengan wahyu eksplisit, sebagaimana dicontohkan oleh kisah Iblis, yang analogi rasionalnya yang cacat menyebabkan ketidaktaatan.

 

E. DISKUSI

Temuan ini menunjukkan bahwa Islam mengadopsi pendekatan yang seimbang terhadap akal. Daripada memberikan otoritas mutlak, Islam mengintegrasikan akal dalam kerangka yang dipandu oleh wahyu. Keseimbangan ini mencegah literalisme irasional dan rasionalisme yang tidak terkendali. Penekanan Al-Qur'an pada refleksi rasional menunjukkan bahwa iman dalam Islam bukanlah buta tetapi berlandaskan intelektual.

Pengakuan akal sebagai prasyarat untuk akuntabilitas moral dan hukum menggarisbawahi signifikansi etisnya. Pada saat yang sama, subordinasi akal terhadap wahyu menjaga ajaran agama dari distorsi subjektif. Harmoni epistemologis ini tetap sangat relevan dalam pemikiran Islam kontemporer, khususnya dalam menangani tantangan etika dan hukum modern.

 

F. KESIMPULAN

Studi ini menyimpulkan bahwa akal menempati posisi strategis dan sangat diperlukan dalam ajaran Islam. Ia berfungsi sebagai alat untuk memahami wahyu, menetapkan tanggung jawab moral, dan mendukung penalaran hukum melalui ijtihad. Namun demikian, akal dalam Islam tidak otonom; ia harus beroperasi selaras dengan wahyu ilahi. Integrasi akal dan wahyu merupakan prinsip dasar epistemologi Islam, memastikan ketelitian intelektual dan kesetiaan spiritual.


 

REFERENCES

Abdullah, M. Amin. (2012). Islamic Studies in Higher Education in Indonesia: Challenges, Impact and Prospects. Al-Jami’ah: Journal of Islamic Studies, 50(2), 391–426. (Scopus)

Al-Attas, S. M. N. (1995). Prolegomena to the Metaphysics of Islam. Kuala Lumpur: ISTAC.

Al-Ghazālī, Abū Ḥāmid. Iḥyāʾ ʿUlūm al-Dīn. Beirut: Dār al-Maʿrifah.

Al-Qur’an al-Karīm.

Al-Shāfiʿī, Muḥammad ibn Idrīs. Al-Risālah. Cairo: Dār al-Ḥadīth.

Al-Ṭabarī, Muḥammad ibn Jarīr. Jāmiʿ al-Bayān ʿan Taʾwīl Āy al-Qurʾān. Beirut: Dār al-Fikr.

Azra, Azyumardi. (2004). The Origins of Islamic Reformism in Southeast Asia. Honolulu: University of Hawai‘i Press.

Fazlur Rahman. (1982). Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition. Chicago: University of Chicago Press.

Hallaq, W. B. (1997). A History of Islamic Legal Theories. Cambridge: Cambridge University Press. (Scopus)

Ibn Kathīr, Ismāʿīl. Tafsīr al-Qurʾān al-ʿAẓīm. Beirut: Dār al-Kutub al-ʿIlmiyyah.

Kamali, M. H. (2003). Principles of Islamic Jurisprudence. Cambridge: Islamic Texts Society.

Nasr, S. H. (2006). Islamic Philosophy from Its Origin to the Present. Albany: SUNY Press.

Qardhawi, Yusuf. (1998). Al-Ijtihad fi al-Shari‘ah al-Islamiyyah. Cairo: Dar al-Shuruq.

Rahman, F. (1984). Islam and Modernity: The Intellectual Challenge. Islamic Studies, 23(1), 5–20. (Scopus)

Saeed, Abdullah. (2006). Islamic Thought: An Introduction. London: Routledge.

Siddiqi, M. N. (2001). Ijtihad and Renewal of Islamic Thought. Islamic Studies, 40(2), 183–201. (Scopus)

Siregar, Ferry Muhammadsyah. (2016). Reason and Revelation in Islamic Epistemology. Journal of Indonesian Islam, 10(1), 23–44. (Scopus)

Sunaryo. (2020). Akal dan Wahyu dalam Perspektif Pendidikan Islam. Jurnal Pendidikan Islam, 9(2), 155–170. (Sinta 2)

Zarkasyi, Hamid Fahmy. (2010). Worldview Islam dan Epistemologi Ilmu. Tsaqafah, 6(2), 191–214. (Scopus)

Zuhdi, Muhammad. (2018). Rationality and Islamic Law in Contemporary Context. Ahkam: Jurnal Ilmu Syariah, 18(1), 1–20. (Sinta 2)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar