Sabtu, 11 Desember 2021

Zikir Pemecah Masalah

 Manusia tak pernah luput dari masalah dalam hidup. Dari mulai masalah yang ringan hingga yang berat. Dari masalah yang berkaitan dengan diri sendiri maupun dengan orang lain dan lingkungan. 

Manusia juga acap kali tak selalu berhasil memecahkan dan mengatasi masalah. Tidak jarang manusia menyerah dan putus asa ketika masalah datang bertubi-tubi. Satu masalah belum selesai, datang masalah lainnya. 

Terkait

Selama manusia hidup, masalah akan selalu ada. Masalah bukan dihindari, melainkan dihadapi dan dipecahkan dengan baik. Dalam hal ini, orang beriman diperintahkan untuk bersandar kepada Allah lewat zikir dan doa, tentu saja dengan tetap terus berusaha menghadapi masalah dengan baik.

Di antara zikir itu adalah hasballah, yakni membaca “hasbunallah wa ni’mal wakil” (cukuplah Allah bagi kita, dan Dia adalah sebaik-baik penolong). 

Zikir ini diucapkan oleh Nabi Ibrahim ketika berada dalam kobaran api yang dinyalakan Raja Namrud untuk menyiksanya. Nabi Ibrahim pun selamat tanpa terbakar sedikit pun (HR al-Bukhari).

Ucapan itu pula yang dikatakan oleh kaum mukmin ketika dikepung oleh pasukan Ahzab (sekutu) Quraisy yang ingin menghancurkan Islam di Madinah. Kaum munafik menakut-nakuti mereka akan kedatangan pasukan besar itu, tetapi mereka tak gentar, malah iman mereka kian bertambah kuat.

Alquran menyebutkan, “(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang mengatakan kepadanya, ‘Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka.’ Ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung'.” (QS Ali ‘Imran [3]: 173).

Kaum mukmin menegaskan bahwa cukup Allah saja bagi mereka. Dialah yang akan menolong dari kesulitan dan bahaya pasukan Ahzab. Mereka tidak akan pernah menyerah hingga titik darah penghabisan.

Akhirnya, pasukan Ahzab dihancurkan Allah dan mereka kembali ke Makkah dengan kondisi pilu dan malu karena kalah. Kaum mukmin dimenangkan oleh Allah karena keimanan yang dimanifestasikan dengan zikir hasballah tadi.

Dalam kitab Bahr ad-Dumu’ karya Ibnu al-Jauzi dikisahkan, Ali bin Abi Shalih bertemu dengan seorang tua ahli ibadah yang tengah bermunajat kepada Allah di Gunung Liham. Merasa tidak enak karena telah mengganggu ibadahnya, Ali bin Abi Shalih berniat hendak pergi.

Namun, sebelum itu, dia meminta maaf dan meminta nasihatnya. Ahli ibadah itu berkata, “Siapa saja yang bersimpuh di depan pintu ampunan-Nya, niscaya dia akan senantiasa mengabdi kepada-Nya. Siapa saja yang banyak mengingat dosanya, niscaya dia akan banyak menyesal. Siapa saja yang mencukupkan dirinya dengan Allah, niscaya dia tidak akan pernah khawatir jatuh miskin.”

Ketika keyakinan cukup Allah saja telah tertanam kuat dalam pikiran kita, kita tidak akan pernah khawatir dengan masalah hidup yang datang mendera, baik itu berupa bahaya yang mengancam atau kekurangan harta.

Allah akan menghindarkan kita dari bahaya itu dan memberi kita kecukupan, seperti ditegaskan dalam Alquran, “Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah (menjadikan-Nya sebagai penolong), niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).” (QS ath-Thalaq [65]: 3).

Wallahu a’lam.


diambil dari https://www.republika.id/posts/22981/zikir-pemecah-masalah 

Rabu, 10 April 2019

MUI; Politik Uang Haram dan Merusak Demokrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengingatkan bahwa politik uang akan membuat sistem demokrasi rusak. Oleh karena itu MUI pernah mengeluarkan fatwa tentang politik uang.

"Politik uang itu perbuatan yang dilarang dan diharamkan, karena pasti merusak semuanya jadi kalau politik uang dilaksanakan akan merusak sistem demokrasi itu sendiri," kata Prof Yunahar kepada Republika usai Taushiyah MUI tentang Pemilu Serentak 2019 di kantor MUI, Selasa (9/4). 

Prof Yunahar mengatakan, pemilu bertujuan untuk mencari pemimpin yang baik, adil, dan amanah. Kalau dalam praktiknya menggunakan politik uang, maka tujuan tersebut tidak akan tercapai.  

Dia menegaskan, yang jelas tidak akan diridhai Allah  SWT jika melakukan politik uang. Bahkan orang yang menyuap maupun yang menerima suap bisa mendapatkan kutukan.  

Sementara Ketua MUI Bidang Fatwa, Prof Huzaemah Tahido Yanggo menambahkan, MUI pernah mengeluarkan fatwa agar umat Islam menggunakan hak suaranya untuk memilih pemimpin yang baik. Umat Islam juga wajib memilih pemimpin yang shidiq (jujur), tabligh (pendakwah), amanah, dan fathanah(cerdas). 

Huzaemah mengatakan, MUI telah mengeluarkan fatwa tapi tidak ada kata-kata golput di dalamnya. Dalam fatwa disebutkan siapa yang tidak menggunakan hak pilihnya padahal ada pemimpin yang dapat memenuhi kriteria atau syarat untuk dipilih. Maka haram hukumnya tidak memilih pemimpin.

"(MUI) hanya menyerukan di situ disebutkan wajib hukumnya, berkewajiban untuk memilih pemimpin yang shidiq, tabligh, amanah dan fathanah, disebutkan juga (di dalam fatwa, pemimpin) yang beriman dan bertakwah," ujarnya.

sumber:

Kajian Perdana Syarah Minhaj al 'Abidin

Berita MUI,Penajam -- Pengurus Daerah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kab. Penajam Paser Utara mengadakan kajian rutin bulanan, setiap pekan pertama hari Senin malam Selasa, waktu setelah solat magrib sampai Isya (19.00-19.40 WITA). 


Kegiatan yang dirangkai dengan Musyawarah rutin bulanan ini diikuti oleh Pengurus MUI Kab. PPU dan jamaah rutin Masjid Agung al Ikhlas.

Pada kajian kali ini diasuh oleh Abu Hasan Mubarok, S.S.I dengan membacakan kitab Minhaj al 'Abidin Ila Jannati Rab al 'Alamin. Sebuah kitab dalam bidang ilmu akhlak atau tasawuf.

Kitab ini dinisbatkan kepada al Imam Hujjatul Islam, Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al Gazali at Thusi (204-505 H). Pendapat ini dipegang oleh Imam Ahamd Zaruq dalam Risalah Syarah al Qarawiyah.

Sementara dalam laman pendapat itu dibantah. Dan disebutkan bahwa kitab ini (baca; manhaj al 'abidin) adalah kitab yang dikarang oleh ِAbi Hasan Ali al Musaffar as Sabti. Imam az Zarkali dalam al 'Alam menyebutnya adalah seorang sufi dari Maroko. Bisa jadi, beliau sangat terpengaruh sekali dengan pemikiran Sang Imam Hujjatul Islam, sehingga kitabnya dinisbatkan kepada Imam Al Ghazali.

Kitab ini merupakan kitab referensi dalam dunia ilmu tasawuf atau akhlak yang diajarkan di banyak lembaga pendidikan Islam. Terlebih kalangan sufi dan pengalam tariqat sering menjadikan karya-karya Imam al Gazali sebagai rujukan utama.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjmwHZDXT6iQel4HOQt9kyOFqDk0k5g0qJkiUuQtz8UHAKdf1mmpEAkYAqr8nDRBck-GjFTJGsfcyr17fqSpSo57y_tSlXr1jW185Pds_3t0GlyLhqr8YuftqeHbcRiEhyUtiP1WLdb5ZXd/s320/ketua+umum+IKADI+PPU.jpgKitab ini menuntun kita untuk bisa menyelami penyakit-penyakit yang tersembunyi, yang sangat membahayakan amal perbuatan seorang hamba, dalam rangka menuju kepada Allah Swt.

Bagaimana metode yang dikenalkan oleh Sang Imam? Apa saja tahapan-tahapan metodologi dalam beribadah yang dipakai? Silahkan merapat ke Masjid Agung al-Ikhlas Penajam.

Info kajian bisa hubungi langsung pengasuh di nomor;  HP/WA 081347522396.